Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) mengambil langkah strategis untuk mengukuhkan perannya sebagai episentrum diseminasi inovasi. Melalui Pusat Unggulan Iptek–Perguruan Tinggi (PUI-PT) Disruptive Learning Innovation (DLI), UM secara resmi menggelar FORTEK (Forum Teknologi, Edukasi, dan Kolaborasi In-Saintek) 2025.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang Oktober hingga November 2025 ini bukan sekadar forum akademik biasa. FORTEK 2025 dirancang sebagai platform kolaboratif untuk membumikan hasil riset dan inovasi teknologi pembelajaran, sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor.
FORTEK 2025 menjadi puncak dari implementasi Program Hibah In Saintek, sebuah program nasional bergengsi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Pencapaian UM dalam program ini sangat membanggakan. Kampus yang berlokasi di Malang tersebut berhasil menjadi satu dari 14 penerima hibah tingkat nasional, menyisihkan hampir 1.000 proposal lain dari seluruh Indonesia.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Inovasi UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., menyoroti urgensi kolaborasi tripartit antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri (DUDI) untuk mempercepat hilirisasi hasil riset.
“FORTEK adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan. Melalui forum ini, Universitas Negeri Malang ingin memperkuat sinergi antara sains, teknologi, dan pendidikan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tegas Prof. Munjin.
Warek UM itu juga mengapresiasi capaian tim PUI-PT DLI yang berhasil lolos seleksi ketat Hibah In Saintek. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa ekosistem riset dan inovasi di UM berjalan produktif dan diakui secara nasional.
Senada dengan itu, Direktur Inovasi UM, Prof. Dr. Nandang Mufti, S.Si., M.T., menekankan pentingnya keberlanjutan riset melalui proses diseminasi yang efektif. Keberhasilan UM, menurutnya, menjadi validasi atas konsistensi kampus dalam mengembangkan riset dan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Mengusung tema “Sinergi dan Pertukaran Gagasan dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Era Digital”, FORTEK 2025 mencerminkan komitmen UM untuk memastikan inovasi yang lahir di laboratorium tidak berhenti di rak arsip atau publikasi jurnal, melainkan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Inovasi tidak berhenti di publikasi jurnal atau laboratorium. Inovasi baru benar-benar berarti bila hasilnya diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Nandang kepada beritajatim.com, Selasa (21/10/2025).
Forum ini menghadirkan pembicara utama Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, M.Si., Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Saintek. Dalam pemaparannya, Prof. Yudi menekankan bahwa tantangan terbesar perguruan tinggi di Indonesia bukan pada kuantitas riset, melainkan pada pemanfaatannya.
“Tantangan kita bukan lagi pada riset, melainkan pada pemanfaatan hasil riset. Banyak inovasi hebat berhenti di prototipe. Perguruan tinggi perlu bertransformasi menjadi pusat diseminasi yang aktif menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia usaha,” tutur Prof. Yudi.
Ia menjelaskan bahwa teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI), Metaverse, Internet of Things (IoT), dan Virtual Reality (VR) kini menjadi sarana pendidikan yang transformatif. AI dapat menciptakan pembelajaran personal, sementara VR dan Metaverse menghadirkan pengalaman belajar imersif yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan di kelas tradisional.
Sebagai pelaksana utama kegiatan, PUI-PT DLI UM memaparkan berbagai inovasi pembelajaran disruptif yang telah dikembangkan. Kepala Divisi, Dr. Harits Ar Rosyid, Ph.D., menjelaskan bahwa produk-produk seperti smart learning, ubiquitous learning, gamified learning, dan personalized learning kini tengah diseminasi ke sekolah, UMKM, dan masyarakat luas.
“Produk inovasi ini harus keluar dari kampus dan sampai ke pengguna akhir. Hakikat diseminasi adalah memastikan teknologi hasil riset memberi manfaat sosial dan ekonomi,” jelas Dr. Harits.
Sementara itu, Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd., Koordinator Tim In Saintek UM sekaligus dosen muda Fakultas Teknik, menambahkan bahwa timnya telah menyiapkan pelatihan, pendampingan ke sekolah-sekolah, serta kerja sama industri untuk mendorong komersialisasi produk inovasi.
Sesi demonstrasi teknologi VR menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Dipandu oleh Reyhan dan Firzon dari tim pengembang, peserta diajak menjajal langsung simulasi pembelajaran imersif di ruang virtual. “Antusiasme peserta membuktikan bahwa teknologi tinggi memiliki daya tarik dan relevansi yang luas. Inilah masa depan pendidikan,” ujar Andika.
Dengan semangat “Diktisaintek Berdampak,” FORTEK 2025 menegaskan komitmen Universitas Negeri Malang untuk menjadikan pendidikan sebagai wahana inovasi yang memberi manfaat nyata bagi bangsa. [kun]






