Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya menggandeng Disperindag Jatim untuk mengembangkan UMKM agar dapat menembus pasar internasional, terutama di negara Malaysia dan Singapura.
Saat ini, tim dosen dan mahasiswa UK Petra Surabaya sendiri tengah membina UMKM Nusantara Pangan Sejati. Targetnya, produk garlic butter dari UMKM ini dapat terekspor ke negara-negara tetangga.
Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh tim, termasuk membuat forum Global Business Insight Session. Ada dua seri dalam forum ini, salah satunya berisi bimbingan teknis dengan menggandeng Disperindag Jatim.
“Dari segi ekspor kita mendapatkan insight baru dari Disperindag. Mereka mau membukakan jalan bagaimana sih pemula ini untuk step awalnya ekspor produk,” ujar Pemilik UMKM Nusantara Pangan Sejati, Nico Njoto Wijaya, Rabu (29/11/2023).
Nico menyebut jika banyak hal yang ia dapatkan lewat forum tersebut. Menurutnya, bimtek seperti ini yang diperlukan pada tahap awal dalam melakukan ekspor. Mengingat, Disperindag memiliki kapasitas tersebut.
“Selama ini kita juga tidak tahu bagaimana first step untuk memulai produk ekspor. Karena kalau kita menjajakan sendiri produk kita dari online kok rasanya peminatnya kurang,” ungkapnya.
Baca Juga:
Lewat Perbaikan Mutu Sekolah Sungai, UK Petra Jadi Terdepan Lestarikan Lingkungan
Ia melihat, garlic butter memiliki peluang cukup besar di pasar internasional, khususnya Malaysia dan Singapura. Apalagi, produk yang ia tawarkan terbilang praktis. Hanya saja, ia belum cukup tahu untuk melakukan ekspor.
“Kalau dari perizinan ekspor, semua sudah kita penuhi. Seperti NIP, NPWP dan lainnya. Nah, kita butuh dibukakan pintu bagaimana tahap awal kita untuk menjajakan produk di luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Puspita Pramiluwati, S.T dari Disperindag Jatim menyebut bahwa setiap produk dan negara memiliki regulasi berbeda. Sehingga, diperlukan pengecekan regulasi apakah produk itu termasuk kategori bebas, dilarang, atau larangan terbatas.
Terkait potensi ekspor garlic butter ke Malaysia dan Singapura, Puspita menilai jika produk apapun yang dihasilkan oleh UMKM harus diperkenalkan. Terlebih, produk tersebut telah sesuai standar yang berlaku.
“Menurut saya, semua harus diperkenalkan. Kalau kita yakin produk kita bagus, segala standar kita lengkap, kita harus percaya diri,” tuturnya.
Tak hanya itu, Puspita juga menekankan perlunya memberikan review produk, bahkan proses produksinya. Kata dia, masih banyak UKM yang belum memiliki video produksi bahkan katalog.
“Video proses produksi itu buat melihat prosesnya itu kira-kira bersih nggak sih ? Terus tidak ada ruginya juga kita menyelipkan story behind ke proses. Misalnya, garlic butter ini ada sejarahnya seperti ini. Nah, itu yang akan membuat produk kita beda dengan yang lain,” katanya.
Perlu diketahui, program pembinaan UMKM Nusantara Pangan Sejati ini mendapatkan pendanaan dari program Kedaireka Kemenristek Dikti dengan total hibah sekitar Rp 150 juta.
Adapun tim dosen tersebut terdiri dari Ketua Tim Prof Dr Juniarti, M.si.,Ak.,CA.,CMA, dan anggotanya Dr Pwee Leng, S.E.,S.H.,M.Kom, Dr Sienny Thio, S.E.,M.Bus, Dr Herry Christian Palit, S.T.,M.T, Monika Kristanti S.E, M.A, dan Mariana Ing Malelak S.E .,M.SM., M.Rech.
Dalam program tersebut, tim dibantu oleh 9 orang mahasiswa, antara lain Agnes Elvania Fortunata, Stefanus Reynaldi Salim, Careen Goldwin, Shakira Wijaya, Joan Cristopall Chandra, Phebe, Joceline Nathania, Vanessa Eugenia, dan Audrey Cerella Widjaja. [adv/pul]






