Ponorogo (beritajatim.com) – Gebrakan inovasi hasil retreat di Magelang pasca pelantikan beberapa waktu yang lalu, nampaknya mulai diaplikasikan oleh Bupati Sugiri Sancoko di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Terbaru, orang nomor satu di Bumi Reog itu, menguji komitmen para kepala dinasnya dengan kegiatan yang dinamai beauty contest.
“Saya bisa menerjemahkan (hasil retreat Magelang-red) dengan sedikit inovasi. Ini saya namakan semacam beauty contest,” kata Bupati Sugiri Sancoko, Selasa (15/4/2025).
Namun, beauty contest ini jangan dibayangkan perempuan-perempuan cantik berlenggak-lenggok di panggung catwalk. Beauty contest yang dimaksudkan oleh Bupati kali ini, merupakan paparan dari masing-masing kepala dinas (kadin). Paparan terkait penerjemahan visi misi bupati untuk 5 tahun ke depan ke dalam sebuah program kerja.
“Bagaimana para kadin ini mampu menerjemahkan RPJMD, menerjemahkan visi misi ke dalam program,” katanya.
Dengan kegiatan ini, Kang Giri sapaan Bupati Sugiri Sancoko bisa menilai komitmen dan keseriusan kepala dinas dalam bekerja untuk mensejahterakan rakyat Ponorogo. Tidak hanya pemaparan dihadapan dirinya, para kadin ini juga menjelaskan di depan Wakil Bupati, Ketua Dewan, Sekda dan masyar akat lewat live streaming di media sosial bupati.
“Selain dihadapan saya, paparan ini juga dilihat Ketua DPRD, Sekda dan rakyat lewat live streaming. Jadi rakyat juga tahu, sehingga dengan kadin menerjemahkan visi misi bupati untuk 5 tahun ke depan, meraka tidak gagal paham,” katanya.
Tidak hanya paparan program saja, kepala dinas ini secara berkala akan dievaluasi kinerjanya. Dasar untuk evaluasi, kata Kang Giri dari kecakapan presentasi, komitmen mengawal atau mengamankan program. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya bagaimana program yang sudah dilakukan ini, berimpact baik untuk masyarakat.
Butuh beberapa hari untuk kegiatan beauty contest ini. Pertama di awali dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP). Setiap dinas diberi waktu kurang lebih 2 jam, di mana nantinya juga ada sesi diskusi untuk mengupas setiap programnya.
“Kalau nantinya gagal dalam menjalankan programnya, ya akan kita ganti. Jadi ini fear, bisa jadi dasar untuk mutasi dan lumrah dalam birokrasi atau instansi,” tutupnya. [end/beq]






