Pamekasan (beritajatim.com) – Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Pamekasan, mengeluarkan sebanyak 1.387 kantong darah selama September 2026. Angka tersebut terdiri atas berbagai komponen darah, yakni Packed Red Cell (PRC), Whole Blood (WB), serta Thrombocyte Concentrate (TC) dan Fresh Frozen Plasma (FFP).
“Berdasar laporan akhir bulan, penggunaan darah didominasi komponen PRC sebanyak 1.050 kantong. Sementara pengeluaran WB tercatat 21 kantong, dan TC dan FFP sebanyak 316 kantong. Sehingga total seluruh komponen darah yang keluar mencapai 1.387 kantong,” kata Kepala UDD PMI Pamekasan, dr Achmad Syafirullah, Kamis (1/10/2026).
Dalam laporan tersebut juga tercantum posisi stok darah selama September yang berasal dari sisa stok bulan Agustus, ditambah darah hasil donor yang dinyatakan sehat, dengan jumlah awal mencapai angka sebanyak 1.583 kantong.
“Khusus untuk komponen WB dan PRC, jumlah pengeluaran tercatat sebanyak 1.071 kantong, terdiri dari 1.050 kantong PRC dan 21 kantong WB. Setelah dikurangi pengeluaran WB dan PRC, stok yang tercatat tersisa sebanyak 512 kantong,” ungkapnya.
Angka tersebut sesuai dengan perhitungan sebanyak 1.583 kantong stok awal, dan dikurangi sebanyak 1.071 kantong pengeluaran WB dan PRC, sehingga menghasilkan sisa darah sebanyak 512 kantong.
“Data ini sekaligus menunjukkan tingginya kebutuhan darah yang harus dipenuhi UDD PMI Pamekasan. Dalam periode September 2026, PRC menjadi komponen dengan jumlah penggunaan paling besar, yakni mencapai sebanyak 1.050 kantong,” jelasnya.
Selain itu, darah PRC merupakan komponen yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang memerlukan sel darah merah, sementara WB merupakan darah utuh. “Adapun TC dan FFP merupakan komponen darah dengan fungsi berbeda yang penggunaannya menyesuaikan kebutuhan medis pasien,” imbuhnya.
“Kondisi ini sekaligus menggambarkan pentingnya kesinambungan stok darah. Tingginya angka pengeluaran membuat ketersediaan darah hasil donor harus terus dijaga agar kebutuhan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan dapat terpenuhi,” tegas dr Syafi (sapaan akrab dr Achmad Syafirullah).
Dari total perolehan sepanjang September 2026, terdapat satu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca angka stok. “Sisa 512 kantong merupakan perhitungan stok setelah pengeluaran WB dan PRC sebesar 1.071 kantong, bukan hasil pengurangan total seluruh komponen darah 1.387 kantong dari stok awal 1.583 kantong,” imbuhnya.
Artinya jika seluruh komponen yang dilaporkan keluar, termasuk TC dan FFP langsung dikurangkan dari angka 1.583 kantong, hasilnya akan berbeda. Karena itu, angka stok 512 kantong perlu dibaca sebagai posisi stok yang dihitung terhadap pengeluaran WB dan PRC.
“Oleh karena itu, ketersediaan darah menjadi salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan. Sehingga keberlanjutan donor darah dan pengelolaan stok menjadi bagian penting untuk memastikan kebutuhan transfusi pasien tetap dapat dilayani,” pungkasnya. [pin/but]






