Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan empat profesor baru dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), serta Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Inovasi yang mereka tawarkan bukan main-main dari teknologi AI untuk kelautan hingga strategi pencegahan infeksi di rumah sakit.
Prosesi pengukuhan keempat profesor akan dilakukan pada Kamis (30/1/2025). Keempat profesor berbagi pandangan soal inovasi yang dibawakan saat pidato pengukuhan pada sesi jumpa pers, Rabu (29/1/2025) di Gedung Samantha Krida UB.
Keempat guru besar yang dikukuhkan yaitu: pertama, Prof. Drs. Alamsyah Mohammad Juwono, M.Sc., Ph.D. dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Kebencanaan Lingkungan dan Emisi Vulkanik dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia merupakan profesor aktif ke-30 di FMIPA, profesor aktif ke-226 di UB, serta profesor ke-402 yang telah dihasilkan oleh UB.
Kedua, Prof. Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D. dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Oseanografi Perikanan dan Dinamika Ekosistem Laut dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Ia merupakan profesor aktif ke-26 di FPIK, profesor aktif ke-227 di UB, serta profesor ke-403 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.
Ketiga, Prof. Dr. Ahsan, S.Kp., M.Kes. dikukuhkan sebagai profesor aktif ke-3 di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Ia pofesor aktif ke-228 di Universitas Brawijaya, serta profesor ke-404 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.
Keempat, Prof. Dr. Dra. Ani Budi Astuti, M.Si. dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Statistika Bayesian Kesehatan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia merupakan profesor ke-31 di FMIPA, profesor aktif ke-229 di UB, serta profesor ke-405 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.
Prof. Drs. Alamsyah Mohammad Juwono, M.Sc., Ph.D. dari FMIPA mengembangkan metode Geolistrik untuk Analisis Fertilitas Tanah (GAFT). Inovasi ini memungkinkan petani dan pengelola lahan mengetahui kesuburan tanah secara cepat, murah, dan praktis tanpa perlu analisis kimia yang rumit.
“Lapisan tanah yang tidak subur memiliki resistivitas lebih tinggi dibandingkan tanah subur,” jelasnya. Penelitiannya di Malang dan Batu membuktikan bahwa daerah dengan resistivitas rendah memiliki kandungan besi (Fe) tinggi—indikator utama kesuburan tanah.
Dari FPIK, Prof. Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D. menghadirkan AIDA UB (AI for Dynamics-Ecosystem Analysis from UB), sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) dan eDNA (environmental DNA) yang mampu menganalisis dinamika ekosistem laut secara lebih presisi.
“Salah satu penyebab menurunnya stok ikan pelagis kecil seperti lemuru adalah perubahan suhu laut yang naik 0,6 hingga 0,7 derajat Celsius. Dalam 10–20 tahun ke depan, suhu bisa naik 2 derajat Celsius, berdampak besar pada perikanan,” jelasnya.
Teknologi ini menjadi solusi atas kegagalan metode konvensional yang hanya berfokus pada optimalisasi alat tangkap tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan.
Di dunia kesehatan, Prof. Dr. Ahsan, S.Kp., M.Kes. dari FIKES memperkenalkan model berbasis Knowledge Management (KM) dan Team Steeps untuk mencegah infeksi nosokomial—infeksi yang terjadi di rumah sakit.
Berdasarkan data WHO, 15 dari 100 pasien di negara berkembang mengalami infeksi rumah sakit, dengan risiko kematian 1 dari 10 pasien. Model ini menekankan edukasi tenaga medis dalam pengelolaan risiko infeksi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Infeksi saluran kencing, pneumonia, hingga luka operasi yang tidak ditangani dengan baik bisa menjadi fatal. Faktor usia, perilaku, dan kebersihan sangat berpengaruh,” paparnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Dra. Ani Budi Astuti, M.Si. dari FMIPA membawa pendekatan revolusioner dalam analisis data kesehatan melalui Statistika Bayesian.

“Kesalahan dalam pengolahan data bisa berakibat fatal, bahkan menyebabkan hilangnya nyawa. Bayesian bukan hanya alat analisis, tetapi juga cara berpikir yang lebih adaptif dalam menghadapi ketidakpastian data kesehatan,” tegasnya.
Model ini bisa membantu dalam prediksi penyakit, perencanaan vaksinasi, hingga pengambilan keputusan berbasis data. Dengan menggabungkan AI dan metode simulasi, pendekatan Bayesian mampu menggali kondisi tersembunyi dalam data kesehatan secara lebih akurat.
Pengukuhan empat profesor ini menegaskan posisi Universitas Brawijaya sebagai pusat inovasi yang berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat. Dari teknologi pertanian, ekologi laut, kesehatan rumah sakit, hingga analisis data kesehatan UB terus melahirkan solusi masa depan. (dan/kun)






