Tulus tampil terlalu singkat di hadapan ribuan orang penonton J-Fest (Jember Festival) yang berkumpul di Seven Dream City, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (7/5/2022) malam. Namun dia membawa kebahagiaan bagi banyak orang, juga untuk seorang sopir taksi dan seorang perempuan.
Berbeda dengan Pamungkas, penyanyi solo pria yang juga tampil di J-Fest dengan sebagian besar lagunya yang berbahasa Inggris, Tulus menggunakan sepuluh lagunya malam itu untuk menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia dalam bercerita dan menyentuh pengalaman hidup pendengarnya. Lirik-lirik lagunya bekerja tidak dengan efek puitis, namun lebih mirip sebuah esai naratif. Anggaplah ini monolog yang reflektif, jika mau.
Dengarlah bagaimana anak muda kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, ini membuka pertunjukan dengan ‘Ruang Sendiri‘, sebuah lagu dari album ‘Monokrom‘ yang bercerita tentang seorang kekasih yang posesif.
Menjelang siang, kau tahu
(Aku ada di mana) Sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai
Bahasa memang menjadi kekuatan Tulus di atas panggung. Dia menganggap para penonton seperti sahabat yang lama tak bersua. Dia artikulatif, terampil dalam menulis lirik, menyapa ribuan orang dengan sebutan ‘teman’, dan menekankan betapa pentingnya beberapa lagu yang dinyanyikan itu dalam hidupnya.
Saat ‘Monokrom‘ dinyanyikan, seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan terlihat menangis di sebelah istrinya. Sang istri tak tahu mengapa dia menangis, dan lelaki itu tak berkata apa-apa. Namun dari lirik lagu itu kita tahu, ‘Monokrom‘ adalah sebuah esai yang jernih soal bagaimana manusia menghargai waktu, rindu, dan kenangan.
Kita tak pernah tahu
Berapa lama kita diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu, jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu, ungkapan terima kasihku
Pada akhirnya lagu-lagu Tulus seperti menjadi personal bagi masing-masing orang. Asrotul Hikmah yang malam itu datang bersama dua kawannya melihat bagaimana ada relasi antara lirik lagu-lagu Tulus dengan hidupnya. “Lagu tulus buatku self healing sih. Banyak lagu Tulus mewakili apa yang aku rasakan, bukan hanya tentang asmara atau jatuh cinta saja, tapi semua tentang kehidupanku,” katanya.
Beberapa hari sebelum Tulus datang, ia berulang kali memutar lagu-lagu itu hingga seorang kawan menegur. “Kamu sedang berlatih menyanyi untuk konser?” tanya sang kawan.
Mungkin Asrotul terlalu serius. Mungkin dia terlalu menghayati. Namun, saat Tulus membawakan ‘Teman Hidup‘, perempuan berjilbab itu teringat ayah dan ibunya. Sementara ‘Labirin‘ adalah salah satu lagu curahan isi hatinya yang jatuh kagum tanpa berbalas kepada seseorang. Ia merayakan kesedihannya dengan gembira, saat Tulus mengajak para penonton bernyanyi bersama dalam ‘Adu Rayu‘. Lagu ini berkesan bagi Tulus karena dinyanyikan bersama Glenn Fredly, sang idola saat masih hidup.
Dan Asrotul tak sendiri malam itu. Bagi banyak orang, kehadiran Tulus dan Pamungkas di atas panggung J-Fest adalah sebuah kegembiraan, setelah tak berkutik diringkus pandemi selama dua tahun. Lukman Wijaya, promotor dari Mahameru Team Work, menyebut J-Fest adalah konser besar pertama di Jawa Timur setelah pandemi, dan semua berjalan sesuai yang direncanakan.
Bupati Hendy Siswanto, yang mendukung acara tersebut dijadikan momentum awal kebangkitan perekonomian lokal, tak berhenti menebar senyum malam itu. Sebanyak 120 lapak usaha mikro kecil menengah yang berada di venue J-Fest diserbu penonton dari berbagai kota: Surabaya, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan tentu saja, Jember. Transaksi diperkirakan Lukman mencapai ratusan juta rupiah.
Hartono, seorang sopir taksi dalam jaringan, menyebut sejumlah penginapan dan hotel penuh terisi tamu dari luar kota. “Saya kemarin mengantarkan tamu dari Surabaya yang baru datang di stasiun ke Seven Dream City,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”jember”]
Sabtu malam itu, ongkos taksi dalam jaringan melonjak karena banyaknya permintaan penonton untuk menuju pusat kota dari Seven Dream City yang terletak di kawasan tepi kota Baratan. Asrotul pun terpaksa berjalan kaki beberapa kilometer karena tak menemukan angkutan umum untuk pulang. Namun ia melakukannya dengan riang gembira, sembari terkenang lirik lagu ‘Hati-hati di Jalan‘.
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini ‘kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kukira kita akan bersama
Hati-hati di jalan
“Saya Tulus. Selamat malam.” Konser berakhir setelah satu jam. Tak ada kembang api yang meluncur ke langit-langit. Dongeng selesai dengan sederhana.
Tulus tampil terlalu singkat di hadapan ribuan orang. Namun pada akhirnya ia membawa kebahagiaan untuk banyak orang. [wir/but]






