Banyuwangi (beritajatim.com) – Libur Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus berwisata. Hingga kini, Kabupaten Banyuwangi tetap menjadi salah satu tujuan favorit karena menawarkan paket lengkap, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan budaya.
Dari wisata alam yang eksotis hingga kuliner khas yang menggugah selera, semua tersaji di Bumi Blambangan. Pada tahun ini, ada daya tarik tambahan. Masyarakat adat Banyuwangi menyiapkan beragam atraksi seni budaya tahunan yang digelar khusus untuk menyambut Hari Raya Idulfitri.
Berikut sejumlah tradisi unik yang dapat disaksikan selama libur Lebaran di Banyuwangi:
Ritual Barong Ider Bumi digelar setiap 2 Syawal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Tradisi ini merupakan simbol bersih desa sekaligus tolak bala bagi Suku Osing. Ritual yang telah ada sejak tahun 1800-an ini menampilkan arak-arakan barong keliling desa dengan iringan musik khas Banyuwangi. Kegiatan ini ditutup dengan selamatan massal, di mana warga menyantap Pecel Pitik, kuliner khas Kemiren.

Selanjutnya, Seblang Olehsari berlangsung pada 4 hingga 10 Syawal di Desa Olehsari. Ritual kuno ini juga merupakan tradisi tolak bala yang sarat nuansa magis. Penari Seblang adalah gadis terpilih dari garis keturunan penari sebelumnya. Ia akan menari dalam kondisi trance selama tujuh hari, mengenakan omprok dari daun pisang muda dan bunga. Tradisi ini menjadi magnet wisata karena menghadirkan sisi mistis budaya Osing.
Memasuki 10 Syawal, warga Boyolangu, Kecamatan Giri, menggelar Puter Kayun. Tradisi ini merupakan napak tilas sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada leluhur yang membuka akses jalan di wilayah utara Banyuwangi. Warga beriringan dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyebut libur Lebaran sebagai momentum penting bagi pergerakan ekonomi daerah. Selain bersilaturahmi, para pemudik juga memanfaatkan waktu untuk berwisata bersama keluarga.
“Banyuwangi menyiapkan sejumlah atraksi seni yang bisa ditonton, selain destinasi wisata yang bisa dikunjungi,” ujarnya.
Tak hanya ritual adat, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menggelar Diaspora Banyuwangi. Acara ini menjadi ajang temu kangen bagi para perantau asal Banyuwangi yang pulang kampung dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.
“Ini ajang untuk memperkuat silaturahmi warga Banyuwangi dari berbagai kota di Indonesia dan belahan dunia. Kami ajak berkumpul, saling melepas rindu, sekaligus berbagi ide untuk bersama-sama membangun Banyuwangi,” tandasnya. [ayu/but]






