Jember (beritajatim.com) – Kekuatan media sosial dalam politik tidak bisa diremehkan. Itu yang dirasakan Ketua Komisi VII DPR RI dari Partai Gerindra Bambang Haryadi, saat menghadang program kompor listrik yang diluncurkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) baru-baru ini.
Bambang mengatakan, saat itu hanya Gerindra yang menolak. “Kami dibantu netizen. Jadi saya sampaikan bahwa program kompor listrik tidak tepat saat ini. Saya dilobi fraksi-fraksi lain, tapi saya tidak bisa. Saya lahir dari keluarga yang pernah menambal panci, keluarga yang kompornya bukan kompor gas, tapi dari kayu,” katanya, dalam acara pengukuhan pengurus anak cabang dan kaderisasi Gerindra, di Hotel Bandung Permai, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (19/10/2022).
Program itu dinilai Bambang tidak tepat. “Saat harga BBM naik, rakyat harus mengubah peralatannya. Alat-alat kompor listrik sangat mahal, karena harus stainless, tidak bisa alumunium. Di situlah saya merasakan kekuatan social media,” katanya.
“Presiden kita sangat concern terhadap isu-isu yang berkembang. Jadi ketika isu penolakan kompor listrik dimotori Partai Gerindra, Presiden langsung merespon positif,” kata Bambang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”DPR-RI”]
“Alhamdulillah, itulah manfaat kita ada di pemerintahan. Apa yang kita kritik selama itu ada landasannya dan memang didukung rakyat, presiden sangat mengapresiasi dan selalu mengakomodasi. Banyak kebijakan pemerintah yang dikritik Partai Gerindra itu diakomodir presiden,” kata Bambang.
Belajar dari pengalaman itu, Bambang mengingatkan pentingnya pemanfaatan media sosial untuk berkampanye politik. “Kita juga harus membuka diri, bahwa ke depan teknologi adalah salah satu alat kampanye yang paling utama. Mungkin dulu kita kampanye konvensional, datang dangdutan, keliling bikin turnamen sepak bola. Kalau saat ini ya beda lagi. Kampanye paling efektif adalah kampanye socal media,” katanya.
“Kita tidak menutup mata. Ada salah satu bakal calon presiden yang hanya bermodalkan social media bisa mengerek elektabilitas. Hanya lari-lari pagi. Menegur orang di pasar. Padahal kalau kita tahu di tengah kotanya, kebijakannya tidak inilah. Tapi itulah social media bisa membungkus,” kata Bambang.
Kampanye melalui media sosial semakin penting, mengingat besarnya jumlah pemilih usia muda dalam Pemilu 2024. “Ada 52 persen pemilih anak muda. Jadi kita harus kampanye kreatif. Kami di Badan Pemenangan Pemilu akan bersinergi dengan seluruh elemen partai,” katanya.
Bambang menyatakan, gerakan politik Gerndra tak harus menunjukkan simbol partai. “Simbol partai ada dalam diri kita,” katanya. [wir/kun]






