Jombang (beritajatim.com) – Sebuah toko yang menjual bahan kebutuhan pokok (sembako) milik Bambang Pramudyo (48) di Desa Mayangan Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang hangus terbakar, Minggu (30/4/2023) dini hari sekitar pukul 00.00 WIB.
Kebakaran tersebut diduga disebabkan oleh korsleting listrik. Percikan api kemudian membesar. Api menjalan ke barang yang ada di toko tersebut. Lalu merembet ke dinding dan naik ke atap. Warga yang mengetahui kebakaran tersebut berupaya memberikan pertolongan.
Mereka melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya. Namun kuatnya embusan angin membuat si jago merah cepat membesar. Warga pun kewalahan. Hingga akhirnya, pemilik toko menghubungi Pos Damkar (Pemadam Kebakaran) Mojoagung Jombang.
BACA JUGA:
Motor Remaja di Jombang Hangus Terbakar
Tak berselang lama, mobil PMK (Pemadam Kebakaran) meraung-raung ke lokasi. Petugas menyemprotkan air ke titik api. Satu setengah jam berselang, api yang melalap toko tersebut berhasil dipadamkan. Namun kondisi toko tersebut sudah ludes.
Agus Budihartono (50), kakak pemilik toko menjelaskan, kejadian itu diketahui ketika warga mencium banu asap yang menyengat. Setelah dilihat ternyata asap sudah membubung tinggi di toko tersebut.
Toko tersebut digunakan untuk berjualan sembako serta kebutuhan lain seperti minyak dan rokok. “Biasanya kalau malam ada yang menunggu. Tapi saat kejadian tidak ada orang yang menunggu. Yang terbakar sembako, rokok, dan barang dagangan lainnya,” ujar Agus.

Agus menduga kebakaran yang melanda toko milik adiknya itu dipicu oleh korsleting listrik. “Kalau kerugian berkisar antara Rp 70 hingga Rp 100 juta. Karena dagangan yang ada di dalam toko ludes terbakar,” ujar warga Desa Mayangan ini.
Bambang Irawan, Ketua Tim PMK Pos Mojoagung mengatakan, begitu mendapatkan laporan melalui telepon dari warga, timnya langsung meluncur ke lokasi. Saat di TKP (tempat kejadian perkara), api sudah membesar. Tentu saja, petugas sempat mengalami kesulitan pemadaman.
“Api diduga berasal dari korsleting arus listrik yang ada di atas kulkas. Api berhasil kita padamkan sekitar 1,5 jam. Kita sempat mengalami kesulitan karena sirkulasi udara di ruangan tersebut minim,” pungkas Bambang. [suf/ted]






