Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Daerah (TKD) Prabowo-Gibran Kota Surabaya Arif Fathoni menyatakan bahwa keberadaan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka yang menjadi representasi milenial yang harus terus didukung untuk mendorong regenerasi kepemimpinan di blantika perpolitikan Tanah Air.
“Anak muda yang sebelumnya diragukan ternyata membawa harapan besar jutaan anak muda di luar sana, bahwa saat ini eranya yang muda yang berkarya,” ujar Arif Fathoni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (27/12/2023).
Menurut dia, anggapan soal kemampuan anak muda kurang pengalaman justru harus diredam, sebab generasi itu menjadi motor baru pembangunan bangsa untuk masa depan.
“Kelebihan generasi muda adalah jeli dalam melihat aspek yang dirasa kurang memuaskan, sehingga mereka cenderung terus berupaya bagaimana hal tersebut bisa diperbaiki,” kata Arif Fathoni.
Lebih lanjut, lantaran ingin melakukan perbaikan dan penyempurnaan, maka generasi muda tak henti-hentinya terus belajar serta berinovasi untuk mewujudkan kemajuan melalui gagasan terbaru.
“Di dalam diri anak muda masih melekat rasa ingin tahu berlebihan, sementara generasi lain sudah merasa lebih pintar, sehingga enggan belajar dari situasi atau tantangan bernegara di era kekinian,” ujar ketua Golkar Surabaya ini.
Dia menyebut kemampuan yang diperlihatkan Gibran saat debat cawapres, Jumat (22/12/2023), merupakan satu contoh keterbukaan dan kemurnian seorang pemuda dalam menyerap beragam masukan dan pengalaman dari orang yang lebih senior.
Kemudian, aspek tersebut dikombinasikan dengan kemauan membuka cakrawala berpikir melalui proses belajar tentang dinamika bernegara.
“Debat kemarin memunculkan harapan dan kepercayaan bahwa anak muda bisa mendapatkan kesempatan untuk mengelola bangsa ini, pasti pemimpin muda memiliki kecepatan dalam mengambil keputusan sampai artikulatif dalam menyampaikan gagasan,” ucap Arif Fathoni.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya ini menyebut salah satu bukti kematangan kompetensi Gibran sebagai seorang calon pemimpin muda adalah saat menjelaskan soal proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) kepada dua pesaingnya, yakni Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan Mahfud Md.
“Dia ini melihat pembangunan IKN adalah transformasi arah pembangunan Indonesia, dari Jawa sentris menjadi Indonesia sentris, bukankah komitmen bernegara kita adalah mengamalkan Pancasila sebagai ideologi bangsa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Arif Fathoni.
Arif Fathoni tak menampik penampilan Gibran di atas panggung debat cawapres membuat banyak kalangan yang meragukan kapasitas dan kapabilitas Wali Kota Surakarta itu harus gigit jari.
Bahkan, kata Thoni, banyak narasi miring yang sengaja dikembangkan pascadebat untuk menyerang pribadi Gibran, salah satu soal “contekan” dan bocoran melalui clip on.
Namun narasi itu disebutnya sudah tak bisa mempengaruhi pandangan publik pada kemampuan Gibran.
“Seseorang yang tidak suka dengan orang lain cenderung tidak bisa menerima kebaikan, jadi biarkan saja,” pungkas Arif Fathoni. [asg/beq]






