Blitar (beritajatim.com) – Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar memperlihatkan tingkat kelahiran bayi selama 14 tahun terakhir terus mengalami penurunan. Bahkan pada 2023 lalu, angka kelahiran bayi di Kabupaten Blitar hanya mencapai 12.611 jiwa.
Itu merupakan angka kelahiran bayi paling rendah di Kabupaten Blitar selama 14 tahun terakhir. Penyebabnya ada berbagai faktor, mulai dari program Keluarga Berencana (KB) hingga tren pasangan muda yang enggak memiliki anak.
“Kalau analisis secara khusus di Dinkes belum pernah melakukan mas. tapi kalo sekedar diskusi saja, ada pengaruh dari program KB dan mindset bahwa sekarang pasangan muda memilih anak sedikit saja,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, Senin (8/7/2024).
Dari data yang dimiliki oleh Dinkes Kabupaten Blitar, juga terlihat bahwa selama 4 tahun terakhir tingkat kelahiran bayi berkurang seribu jiwa setiap tahunnya.
Rinciannya pada tahun 2020 angka kelahiran bayi di Kabupaten Blitar masih mencapai 15.495 jiwa. Jumlah itu terus berkurang pada tahun 2021, dimana tingkat kelahiran bayi di Blitar hanya mencapai 14.065 jiwa.
Sementara pada tahun 2022 angka kelahiran di Blitar tercatat hanya mencapai 13.028 jiwa. Jumlah itu terus berkurang pada tahun 2023, dimana angka kelahiran bayi di Blitar hanya mencapai 12.611 jiwa.
Bahkan hingga pertengahan tahun 2024 ini, tingkat kelahiran bayi di Blitar masih mencapai 5.703 jiwa. Banyaknya pasangan muda yang enggan untuk memiliki anak, menjadi salah satu penyebabnya.
Ditambah lagi makin berhasilnya program KB, tentu membuat tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Blitar kian rendah.
“Apalagi sekarang ada banyak di medsos yang child free,pasti ada pengaruh pada mindset anak muda sekarang,” imbuhnya.
Perubahan pola pikir pasangan muda soal memiliki bayi tentu berdampak pada rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk. Pasangan muda saat ini banyak yang menunda memiliki anak karena berbagai alasan mulai dari belum siapnya psikologis hingga belum stabilnya ekonomi mereka.
“Tapi jika penurunan drastis, bisa jadi masalah yg skrg dialami negara-negara maju, bahwa angka pernikahan dan kelahiran bayi sangat rendah. dikhawatirkan penerus pemerintahan dan segala bidang sangat kurang,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar pun masih akan melihat fenomena ini dalam 10-15 tahun ke depan. Jika fenomena ini kan terjadi maka pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memecahkan permasalahan ini. [owi/beq]






