Malang (beritajatim.com) – Tim penelitian terdiri dari sejumlah sivitas Universitas Negeri Malang (UM) adakan pelatihan pembuatan lilin beraroma dari limbah minyak sisa penggorengan atau jelantah tempe. Pelatihan ini diberikan kepada masyarakat Kampung Sanan yang dikenal sebagai kampung industri tempe.
“Program pelatihan itu saya lakukan bersama mahasiswa untuk memberi solusi pada warga kampung industri tempe Sanan dalam meningkatkan keterampilan dan pendapatan mereka melalui limbah yang tidak berharga dan menjadi barang buangan. Kami menyadari limbah sisa penggorengan bisa menjadi masalah lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak dikelola secara baik,” kata Hendra Susanto, S.Pd., M.Kes., Ph.D., selaku ketua penelitian.
Dari situ, muncul inovasi untuk memanfaatkan limbah menjadi produk yang bermanfaat. Pihaknya berharap dapat membantu warga Sanan dalam meningkatkan keterampilan dan pendapatan. Disamping itu pelatihan ini dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan.
“Saya bersama para mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini sebelumnya telah melakukan riset dan uji coba terkait inovasi pembuatan lilin beraroma scented candle dari limbah sisa penggorengan tempe di Kampung Sanan. Ternyata hasilnya memuaskan dan layak untuk disebarluaskan dan diajarkan kepada masyarakat Sanan,” katanya saat diwawancarai, Selasa (4/6/2023).

Menurut Hendra, pelatihan dari timnya dapat membantu warga mengatasi masalah limbah sekaligus memberikan ilmu baru tentang pengolahan scented candle. Pihaknya memberikan pelatihan dan pendampingan dengan mengajarkan cara mengolah limbah minyak sisa penggorengan menjadi bahan baku pembuatan lilin beraroma dengan kualitas tinggi.
“Pelatihannya berlangsung hari Minggu 2 Juli 2023 lalu. Lilin yang dihasilkan dari limbah minyak sisa penggorengan ini beraroma menyegarkan dan ramah lingkungan. Kami juga memberikan informasi tentang pemasaran produk dan cara meningkatkan kualitas produk untuk meningkatkan penjualan,” tutur Hendra mengakhiri.
Trinil Sri Wahyuni, Ketua Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kampung Sanan mengatakan program pelatihan ini sangat membantu masyarakat menangani limbah.
“Kami tidak bingung lagi untuk mengurus limbah penggorengan yang setiap harinya banyak sekali. Mulai hari ini kami bisa memanfaatkan limbah yang tidak bernilai ini menjadi barang bermanfaat dan bernilai jual,” ujar Sri Wahyuni.
Baca Juga:
24 Mahasiswa AS Ikuti Program CLS di UM Malang
Menurutnya program ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam memanfaatkan limbah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual tinggi.
“Dengan adanya program-program ini, diharapkan masyarakat dapat semakin sadar akan pentingnya pengolahan limbah dan menjaga lingkungan yang sehat dan bersih,” terangnya. [dan/beq]






