Ponorogo (beritajatim.com) – Tanah longsor di Gunung Banyak, Desa Talun Kecamatan Ngebel Ponorogo akhirnya dipantau oleh tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Tim PVMBG melakukan survei di mahkota longsoran d ibagian atas.
Hasil pantauan sementara, lokasinya masih berpotensi ada gerakan tanah. Dimana dimensinya dilihat masih cukup luas. “Pantauan sementara yang bagian atas, lokasinya masih berpotensi ada gerakan tanah,” kata Penyelidik Bumi PVMBG, Gibar M. Suryadana, Senin (7/11/2022) sore.
Selain melakukan survei bagian atas, Gibar juga akan melakukan survei pada bagian bawah longsoran. Pemantauan di bagian bawah ini dilakukan untuk mengetahui daerah-daerah mana saja yang terancam. Rekomendasinya, bagi mereka yang berada di Desa Talun, terutama di titik tanah gerak maupun dibawahnya untuk segera dilakukan relokasi ke tempat yang lebih aman.
[berita-terkait number=”3″ tag=”longsor-ponorogo”]
“Kita juga ngecek pakai drone. Untuk ambil foto udara di lokasi-lokasi itu. Setelah melihat hasil foto, bisa mengetahui arah gerakan retakan. Sehingga kita juga bisa melakukan pemetaan daerah-daerah mana saja yang harus direlokasi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gibar juga melakukan sosialisasi kepada kepala desa (kades) Talun dan warga terkait hasil sementara pantauan dari tim PVMBG tersebut. Dia menyebut untuk hasil resminya, pihaknya akan berkirim surat kepada Bupati Ponorogo. “Untuk rekomendasi resminya, nanti kita akan memberikan surat resmi yang kita tunjukkan kepada Bapa Bupati Ponorogo,” pungkasnya.
Untuk diketahui sebelumnya, tanah longsor terjadi di Gunung Banyon masuk Desa Talun minggu ketiga bulan Oktober lalu. Longsor susulan di lokasi tersebut masih berpotensi terjadi, jika hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di seputar Gunung Banyon.
“Di puncak longsor pertama masih banyak air dan material. Sehingga jika hujan dengan intensitas tinggi sangat berpotensi untuk terjadi longsor susulan,” kata salah satu anggota TRC BPBD Ponorogo, Hadi Susanto.
Potensi longsor susulan terjadi, karena posisi pusat longsor itu merupakan retakan tanah yang lama. Retakan tanah di Gunung Banyon ini muncul pertama kali pada tahun 2016 lalu. Sejak saat itu, setiap musim penghujan diperkirakan timbul retakan. Sehingga pada Minggu malam kemarin terjadilah longsor. “Sejak tahun 2016 lalu, pemukiman warga yang berada di lereng Gunung Banyon sudah berstatus zona merah,” katanya.
Dengan adanya tanah longsor itu, ratusan warga yang berada dipemukiman lereng gunung tersebut mengungsi. Mereka mengungsi ke tiga tempat yang dirasa aman, yakni balai Desa Talun, Rumah Kepala Desa dan SDN 1 Talun. BPBD Ponorogo fokus untuk melakukan pelayanan dasar untuk warga yang mengungsi. Mulai dari pendirian dapur umum, hingga pemberian selimut dan fasilitas kesehatan.
“Pengungsi masih kita data, ya ada 280 orang. Ini di zona merah masih ada 2 KK yang enggan mengungsi. Tetapi tetap kita himbau jika turun hujan dengan intensitas tinggi untuk cepat meninggalkan rumah, menuju tempat yang lebih aman,” pungkasnya. [end/suf]







