Jember (beritajatim.com) – Tim pemenangan Muhammad Fawait-Djoko Susanto, pasangan calon nomor urut 2, dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mrothol alias tanggal. Mohammad Sholeh, ;politisi Partai Gerindra yang juga anggota Bidang Hukum, mengundurkan diri dari tim, Minggu (6/10/2024).
Dalam pesan WhatsApp yang ditujukan kepada Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Tim Pemenangan Cabup-Cawabup Muhammad Fawait-Joko Susanto, Sholeh menyebutkan tiga hal.
Pertama, ‘apa yang telah saya sampaikan atau tanyakan melalui grup ini tidak ada jawaban, sedikitpun tidak ada tanda-tanda untuk merespons’.
Kedua, ‘keberadaan saya di tim ini tak akan punya dampak fignifikan terhadap perolehan suara, karena saya tidak memiliki massa, jika pun ada kecil sekali, hanya di Pasar Avatar dan sebagian kecil di nelayan Puger.
Ketiga, ‘dan secara resmi saya akan kirim surat pengunduran diri dari tim pemenangan Cabup – Cawabup Muhammad Fawait – Joko Susanto nomer urut 02, sebagaimana surat keputusan KPUD Nomor 1217 tentang penetapan tim kampanye dan akun media sosial kampanye pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jember, guna mencoret nama saya sebagai tim.
Dimintai konfirmasi oleh Beritajatim.com, Sholeh membenarkan kabar mengenai pengunduran diri tersebut. Alasan pengunduran dirinya tak lepas dari masalah transparansi pendanaan tim pemenangan dan kinerja tim di bidang advokasi.
“Sejak 22 September 2024 saat saya dan teman-teman dibaiat, sampai hari ini belum ada rapat pembahasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pemenangan, dan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan anggaran,” kata Sholeh.
Hal ini tentu tidak bisa diterima Sholeh. “Karena saya ditunjuk sebagai bagian dari struktur tim, tentunya saya harus bertanggung jawab sepenuhnya bagaimana calon bisa memperoleh suara signifikan dan menang. Tentu hari ini harus ditunjang strategi, termasuk ‘vitamin’ yakni anggaran,” katanya.
Sholeh sempat menanyakan hal tersebut di grup WhatsApp tim. “Ternyata tidak ada jawaban sampai hari ini. Ya sudah. Percuma berarti. Lebih baik saya mundur dari tim, biar tidak jadi beban saya,” kata pengurus Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember ini.
Keinginan Sholeh sederhana, yakni transparansi anggaran dari tim. “Saya lihat tidak ada selama ini. Transparansi ini penting sekali. Setelah dibentuk, tim semestinya membahas persoalan anggaran, persoalan akomodasi untuk semua operasional bidang dan semua anggota tim,” katanya.
Belum ada pembahasan soal anggaran, sejumlah kegiatan seperti pemasangan alat peraga kampanye dan kegiatan kampanye sudah berjalan.
“Lha ini apa? Terus saya apa manfaatnya? Akhirnya saya bertanya-tanya: ini ada atau tidak anggarannya. Saya bertanya dalam grup tim tentang hal-hal tersebut. Saya sampaikan bahwa transparansi penting, dan itu bagian dari tanggung jawab kita,” kata Sholeh.
Tidak ditanggapi, Sholeh pun memilih mundur. “Saya sudah dikeluarkan dari grup. Cuma karena saya mendapatkan SK dari KPU sebagai tim kampanye, saya akan kirim surat resmi kepada KPU agar nama saya dicoret,” katanya.
Hal lain yang membuat Sholeh kecewa adalah serangkaian manuver pelaporan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jember mengatasnamakan tim tanpa ada koordinasi dan pembicaraan internal terlebih dahulu. “Tahu-tahu ada tim hukum sendiri. Saya lihat di berita-berita media, ada pelaporan dan sebagainya. Itu apa?” katanya,
“Ini bagaimana? Kita ini sudah resmi tim kok membentuk tim. Okelah membuat semacam itu, tapi sifatnya relawan. Hubungan kita koordinasi saja. Sebagai eksekutor seharusnya tim (bidang) hukum. Saya bilang di grup, saya tidak mau ada tim dalam tim. Itu kan sama saja negara dalam negara. Lucu,” kata Sholeh.
Sekretaris Tim Pemenangan Fawait-Djoko, Dima Ahyar, menolak berkomentar lebih jauh soal pengunduran diri Sholeh. “Saya masih belum mendapatkan informasi yang cukup dan klarifikasi. Nanti kalau sudah memperoleh informasi yang utuh dan sebagainya, baru kita bisa menanggapi dan menyikapi,” katanya.
Sholeh memang telah menyatakan pengunduran diri di grup WhatsApp tim. “Tapi karena itu dari sisi Cak Sholeh dan di grup itu biasa ada dinamika, dan masuknya Cak Sholeh juga melalui usulan partai, maka akan kami tanya seperti apa sesungguhnya. Kami akan tanya dulu, kami konfirmasi, kami klarifikasi. Baru setelah utuh informasinya, kami baru bisa menanggapi,” kata Dima.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember Ahmad Halim juga menolak berkomentar banyak. “Tidak ada tanggapan. Beliau tenaganya diperlukan partai,” katanya. [wir]






