Jakarta (beritajatim.com) – Saat pengumuman penentuan Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping Ganjar Pranowo yang diusung oleh PDIP, Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menceritakan flashback mengenai orde baru (orba).
Dalam acara pengumuman Cawapres PDIP ini nampak sama sekali tak dihadiri keluarga Presiden Jokowi satupun. Selain itu Megawati dalam sambutannya menyebut dua nama sang putra dan putrinya yakni Prananda dan Puan Maharani.
Melansir YouTube PDIP Rabu (18/10/2023) Megawati menyatakan beberapa waktu lalu di markas besar kantor DPP PDIP Menteng ini Orde Baru (Orba) mencoba meluluhlantakkan kantor ini tepatnya 27 Juli 1996 silam.
“Saat itu PDIP belum ada kata Perjuangan. Kemudian melalui peristiwa ini ada kekuatan arus bawah akar rumput bersatu guna mengkoreksi praktik Kolusi Korupsi Nepotisme (KKN) dan akhirnya pasca kejadian itu PDI jadi PDI Perjuangan,” jelas Megawati.
Baca Juga:
Megawati: Bismillah Cawapres PDI Perjuangan adalah Profesor Doktor Mahfud MD
Megawati berharap sosok pemimpin Indonesia tidak boleh membutakan diri terhadap sejarah dan tidak boleh membutakan semangat reformasi. Seorang pemimpin harus kokoh pada jalan Pancasila, merakyat, visioner,berprestasi dan jabatan strategis nasional serta memiliki pengalaman konkrit dalam pemerintahan.
“Pemimpin yang baik ini selalu bergelora jiwa kemanusiaan, hatinya mudah tersentuh oleh penderitaan rakyat, dan semangat pemimpin ini seharusnya ada,” tegasnya.
Dengan berbagai harapan tersebut, imbuh Megawati dirinya mengaku cukup lama menganalisa dan berdialektika dalam alam pikir tentang apa problem yang dihadapi bangsa Indonesia.
Banyak PR dan harapan yang masih perlu diperjuangkan pemimpin PDIP di antaranya anak terlantar dipelihara negara ternyata belum sepenuhnya dapat dilakukan.
Selanjutnya pencegahan penyakit menular seperti TBC, diare bahkan upaya pencegahan stunting juga masih belum maksimal.
“Adalagi PR Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi 13 tahun kedepan. Belum lagi memikirkan bagaimana caranya umur 60 keatas masih dapat penghidupan yang layak serta adanya liberalisasi politik dan sistem ekonomi yang berdampak pada meningkatnya kasus korupsi. Maka dari itu saya mantap mengambil keputusan dan saya tujukan sebesar besarnya pada kepentingan bangsa dan negara dengan memilih Prof Mahfud MD sebagai Cawapres PDIP,” tegasnya. (aje/ted)






