Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan tersangka yang mati tergantung di ruang penyidik Polsek Tambaksari, Jumat (02/09/2022) dini hari. Versi kepolisian, Hari nekat gantung diri karena malu. Keterangan tersebut disampaikan oleh polisi usai mendapat keterangan dari Sarofah (38).
Lantas bagaimana menurut penuturan psikolog soal kasus ini? Benarkah rasa malu bisa mempengaruhi orang untuk bunuh diri?
Menurut penuturan Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, Ketua Apsifor Perwakilan Jawa Timur, perlu adanya pengukuran lebih dalam menangani kasus bunuh diri ini. Apakah karena malu tersebut memang benar sebagai pemicu bunuh diri atau bukan.
“Saya jawab yang pertama tidak terlibat dalam pemeriksaan, yang kedua saya menjawab secara umum. Artinya tidak hanya mengulas kasus ini, karena kasus kan saya harus berhadapan dengan kasusnya,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”bunuh-diri”]
Menurut Riza, perlu dipahami bahwa untuk mengetahui apakah betul dia punya depresi atau tidak ini harus dijelaskan secara ilmiah dan itu harus dilakukan beberapa pemeriksaan. Hal itu sesuai dengan keilmuan psikologi forensik dalam melihat motif bunuh diri.
“Memang bunuh diri perlu dilakukan autopsi. Jadi kalau di dalam psikologi forensik itu kita dikenal dengan namanya otopsi psikologi. Otopsi psikologi itu artinya kita melakukan otopsi pembedahan terhadap kasus kematian, apakah kematiannya wajar atau tidak. Kalau kematiannya wajar ini disebabkan oleh apa kematiannya, misalnya sakit, apakah memang dia punya riwayat usaha bunuh diri, kondisi itu wajar. Artinya kematian yang wajar,” paparnya.
Riza menjelaskan, untuk mengetahui apakah benar kondisi orang depresi itu didiagnosa sebelumnya. Sebab, depresi itu disebabkan atas kejadian-kejadian tidak menyenangkan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.
“Depresi itu kondisi tertekan, kondisi psikologi tertekan dan kemudian dia tidak mampu untuk mengeluarkan emosinya dia kemudian berusaha melakukan hal-hal yang diinginkan salah satunya adalah melakukan upaya bunuh diri. Jadi dia merasa tidak mampu, merasa tidak sanggup, nah untuk mendiagnosa orang seperti ini juga tidak mudah, karena kondisi depresi itu tidak bisa terjadi hanya sehari dua hari,” jelasnya.
Jadi orang bisa dikatakan mengalami sesuatu diagnosa depresi ada masanya. Berapa lama. Dan itu ada gejala-gejala yang muncul. “Jadi untuk mendiagnosa seseorang trauma atau tidak, tidak bisa dinilai pada saat pasca kejadian karena reaksi itu terjadi karena reaksi normal. Artinya siapapun memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan, pengalaman yang menyakitkan pada baru kejadian kemudian muncul reaksi marah, khawatir dan sebagainya artinya normal,” tutupnya. (ang/kun)






