Ponorogo (beritajatim.com) – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang kambing dan sapi di Bumi Reog beberapa waktu yang lalu, nampaknya berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2022 Kabupaten Ponorogo. Pasalnya, target retribusi pasar untuk PAD 2022 per September lalu baru mencapai sekitar 67 persen atau Rp1,7 miliar. Padahal, sesuai dengan rencana yang dibuat, bulan September itu target penerimaan PAD dari retribusi pasar sebesar 75 persen.
“Data terbaru sampai bulan September lalu, perolehan PAD dari retribusi pasar masih 67 persen. Harusnya bulan tersebut targetnya mencapai 75 persen,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Perdagkum) Kabupaten Ponorogo, Okta Heriyadi, Kamis (6/10/2022).
Tidak tercapainya target retribusi pasar itu mengaca pada perolehan pada bulan yang sama di tahun lalu, dengan target Rp2,6 miliar. Tak sampainya target di bulan September, disinyalir karena adanya penutupan 9 pasar hewan di wilayah Kabupaten Ponorogo.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pmk-ponorogo”]
Penutupan pasar hewan itu merupakan imbas dari maraknya PMK yang menjangkiti hewan ternak di Ponorogo beberapa waktu yang lalu. “Penutupan pasar hewan imbas dari wabah PMK itu nampaknya yang membuat tidak mencapai target retribusi pasarnya,” ungkap Okta.
Faktor yang lain, kata Okta, bisa jadi karena pedagang yang sekarang sudah tidak jualan. Meskipun begitu, dirinya optimis bisa terpenuhi target retribusi dari tiga bulan tersisa ini. Sebab, Pasar hewan Jetis yang sudah diujicobakan pembukaan selama dua tahun terakhir.
“Dengan sudah diuji coba dibukanya Pasar Hewan Jetis, semoga tiga bulan terakhir ini bisa menggenjot PAD dari retribusi pasar,” pungkasnya. [end/suf]






