Surabaya (beritajatim.com) – Wahana perosotan di kolam renang Kenjeran Park Ambrol, Sabtu (07/05/2022) sekitar pukul 13.30 WIB. Dugaan sementara, perosotan tersebut ambrol lantaran tak mampu menahan beban pengunjung yang menumpuk. Akibat kejadian tersebut 17 orang luka-luka karena terjatuh dari ketinggian 10 meter dan menghempas ke paving dibawahnya.
Dari informasi yang dihimpun beritajatim, berbagai karyawan penjaga kolam renang Kenjeran Park mengatakan jika umur perosotan tersebut telah berusia 20 tahun.
Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh Bambang Irianto selaku HRD PT Bangun Citra Wisata (BCW), ia mengatakan, perosotan tersebut dibangun pada tahun 2016 yang berarti, usia dari wahana tersebut 6 tahun. “Setahu saya dibangun pada 2016 dan selalu dilakukan pengecekan berkala,” ujarnya saat dikonfirmasi beritajatim.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kenjeran-park-surabaya”]
Selain berbeda pendapat mengenai usia perosotan, antara pegawai dan pengelola juga berbeda pendapat terkait perawatan wahana tersebut. Informasi dari pegawai, wahana tersebut menjalani perawatan setiap tahun. Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh pihak pengelola. Bambang menyebutkan jika tiap 3 minggu perosotan selalu diperiksa dan dirawat kelayakannya.
“Seluncuran 3 minggu sekali cek baut, seluncuran ada di tes dan bersihkan. Termasuk kolam air kita selalu cek. Terakhir pengecekan sebelum puasa kondisinya masih bagus. Selama puasa terus aktif mungkin volumenya sedikit. Tadi kan banyak yang genjot-genjot itu (diperosotan),” imbuhnya.
Penelusuran Beritajatim di lokasi, perosotan yang ambrol tersebut terbuat dari bahan yang menyerupai plastik dan disangga dengan besi warna biru yang memiliki karat. Selain itu, Baut yang menjadi penghubung dan penguat perosotan itu tampak ada yang baru.
Namun, baut itu hanya di ujung perosotan menjelang menyentuh kolam. Sementara yang lainnya tidak diganti. Bukan hanya itu, Beritajatim menemukan ada satu baut baru yang dipasang longgar. “Kita selalu cek bautnya tiap 3 minggu sekali,” tegas Bambang.

Selain kondisi baut, kondisi tutup perosotan yang bermodel lorong juga tampak ada yang pecah, karena proses alamiah pelapukan plastik.
Bambang berpendapat, ambruknya perosotan karena pengunjung yang menumpuk dan tidak sabar untuk menggunakan wahana perosotan tersebut. Padahal, kapasitas maksimal dari perosotan tersebut hanya 10 orang. Namun, ia tetap menunggu kepastian dari pihak kepolisian. “Analisa saya itu lebih dari 10 orang dan bareng gandengan. Tadi ada penumpukan diatas. Ya nama pengunjung latar belakangnya beda-beda kan kalau diingatkan marah-marah,” pungkasnya. (ang/kun)






