Malang (beritajatim.com) – Temu komunitas se-kota Malang dan diskusi dua buku karya sastrawan yang berproses di kota Malang mewarnai pra festival sastra kota Malang. Diskusi buku diadakan pada 6 Oktober 2023 dan 29 Oktober 2023, sementara temu komunitas berlangsung pada 1 Oktober 2023.
Dua buku yang didiskusikan berjudul ‘Pragmatik Sastra Lekra’ karya Moh Fikri dan kumpulan puisi ‘Tanbihat Sebuah Perjalanan’ karya Yohan Fikri. M. Dandi selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa acara pra – festival sebagai upaya untuk mengenalkan tentang adanya festival sastra kota Malang.
“Jadi kami diskusikan dua buku karya penulis yang berproses di Malang. Selain itu, pra festival juga diisi dengan kelas menulis esai pada Agustus 2023 lalu. 1 Oktober 2023 kemarin juga kami adakan temu komunitas se Malang Raya,” terang Dandi saat wawancara, Sabtu (7/10/2023).
Temu komunitas, lanjut Dandi, diadakan untuk mempertemukan berbagai komunitas literasi, sastra, dan seni di Kota Malang. Tujuannya untuk merumuskan ide kolaboratif saat festival sastra kota Malang.
“Ada 12 komunitas kemarin hadir. Kami kemarin coba merumuskan untuk donasi buku yang akan dikelola oleh teman-teman komunitas , kemudian mereka menentukan penyalurannya, baik itu dibagi rata antarkomunitas atau disalurkan ke taman baca di kota Malang,” katanya.
BACA JUGA: Bintang Radio RRI Surabaya Hadirkan Kembali Ajang Bakat
Festival sastra diadakan pada 19-22 Oktober 2023 mendatang di Pan Java Mulyoagung. Acara ini mendatangkan sastrawan nasional yang pernah berproses di kota Malang. Diantaranya, Felix K Nesi dan Royyan Julian.
“Dengan pra festival sebelum nanti kita festival antusias masyarakat cukup besar. Dari statistik sosial media misalnya, cukup banyak engagementnya di atas 10 ribu,” ujar Dandi.
Pada kesempatan berbeda, Moh Fikri Zulfikar penulis buku Pragmatik Sastra Lekra menceritakan proses kreatifnya menulis. Buku tersebut dihasilkan dari tugas akhir tesis tentang cerpen karya sastrawan Lekra yang terbit di Harian Rakyat.

“Setelah saya membaca cerpen Lekra di Harian Rakyat saya menemukan ternyata ada agenda terselubung dari penulis cerpen. Pragmatik ini dipahami dengan melihat maksud dari penulis menulis karya sastra dan berisi apa,” kata Fikri.
“Setelah gagasan dipahami, pembaca ngapain, dalam hal ini cerpen Lekra mengajak pembaca yang kebanyakan buruh dan petani untuk melakukan perlawanan,” ujarnya menambahkan.
BACA JUGA: Lembah Baung Pacet Mojokerto, Warung dan Campground Manfaatkan Pembangkit Listrik Mandiri
Buku Pragmatik Sastra Lekra dibahas oleh Muhammad Fathoni dosen pendidikan sastra Indonesia Universitas Brawijaya. Inot, sapaan akrab Fathoni, menjelaskan bahwa upaya penulis buku perlu diapresiasi karena tidak banyak yang tertarik untuk meneliti Lekra. Apalagi Fikri termasuk generasi 80-90 yang tidak terlibat langsung dengan zaman Lekra.
“Dengan membaca sastra lekra, artinya kita ingin memahami apa yang terjadi atau bisa jadi apa yang diinginkan masyarakat pada zaman itu, dalam hal ini berkaitan dengan lekra. Sastra mampu menjadi jembatan naratif, karena sastra mampu memunculkan narasi yang tidak termuat dalam narasi formal,” ujarnya.
Sementara itu, Yohan Fikri menjelaskan, prosesnya dalam menulis buku kumpulan puisi tidak bisa dipisahkan dari buku puisi yang pernah dibacanya. Buku perdana Yohan ini sebagai bukti perjalanannya dalam mencari bentuk puisi yang diinginkan.
“Isinya seperti berbeda beda. Di situ saya menyadari ada keterpengaruhan yang berimplikasi besar pada cara saya mengarang. Ada keterkaitan antara buku yang saya baca, dengan karya saya. Saya terinspirasi dari banyak penyair, diantaranya Acep Zamzam Noor, Royyan Julian, Goenawan Mohammad,” ujar Yohan.
Dewi R Maulidah, pembahas buku Tanbihat Sebuah Perjalanan memandang bahwa puisi yang ditulis oleh Yohan Fikri berusaha mempresentasikan pengalaman hidup, berfikir, emosi, dalam bentuk puisi. Dalam karya Yohan, ia menyampaikan tentang yang sudah berlalu dan akan tetap ada.
“Ada tiga bagian buku puisi ini, yaitu keberangkatan, perjalanan, kepulangan. Secara keseluruhan bentuk kebanyakan puisi yang berbentuk sajak. Namun, saat membaca ulang, juga disisipi bentuk prosais. Itu menunjukkan bahwa proses menulis si penyair juga dipengaruhi buku yang dibacanya,” ujar Dewi. (dan/nap)






