Sidoarjo (beritajatim.com) – Jawa Timur membaca bukanlah mimpi. Ia tumbuh dari halaman-halaman kecil di desa, dari tawa anak-anak yang mencintai pengetahuan, dan dari tangan-tangan pegiat literasi yang setia menyalakan lentera di tengah kehidupan masyarakat.
Di salah satu sudut Sidoarjo, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kembang Gula menjadi ruang hidup bagi semangat membaca. Bagi Mega, pegiat literasi yang aktif di sana, membaca dan berbagi ilmu adalah perjalanan spiritual yang tak berkesudahan.
“Literasi adalah oase penyegar bagi saya, seperti musafir yang melakukan perjalanan panjang di tengah padang pasir. Menekuni dunia literasi membuat hidup saya lebih hidup,” ujarnya dengan mata berbinar.
Perayaan Pengetahuan di Kampung
TBM Kembang Gula bukan sekadar tempat membaca buku. Ia telah menjelma menjadi pasar ide kreatif dan ruang perjumpaan lintas komunitas dari Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan hingga Madura. Melalui agenda “Pasar Serabi Literasi & Lapak Buku”, semangat belajar dihidupkan kembali dari halaman-halaman sederhana di kampung.
Kegiatan ini melampaui aktivitas baca biasa. Ada kelas kreatif, dongeng, eksperimen sains, read aloud, hingga potluck warga yang mengikat keakraban dan gotong royong. Lebih dari 100 anak dan orang tua telah terkonfirmasi hadir, ditemani para relawan dan pegiat literasi dari berbagai penjuru Jawa Timur.

Alam sebagai Kelas Belajar
Bagi Makrus Sahlan, inisiator gerakan Jelajah Dusun & Jendela Dunia, literasi bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan proses membangun karakter dan kepemimpinan sejak dini.
“Kami ingin membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh di mana saja. Alam adalah kelas belajar kehidupan. Anak-anak tidak hanya menjadi pembaca, tapi juga pemimpin masa depan,” ungkapnya.
Gerakan Kolaboratif yang Menyala dari Akar
Pasar Serabi Literasi lahir dari semangat kolaborasi berbagai komunitas, di antaranya: Read Aloud Sidoarjo, Rumah Babe, Vegan Squad Surabaya, Pijakan Ilmu, TPQ Manarul Iman Krian, Buku Anak Islam, Pepelingasih Sidoarjo, serta Pemuda Lintas Dusun.
Di ruang ini, pengetahuan diperlakukan seperti pangan — dibagikan, dinikmati, dan menghidupkan. Setiap buku yang dibuka, setiap cerita yang dibagikan, menjadi investasi peradaban untuk Indonesia yang berdaya, berkeadaban, dan tumbuh dari akar desa. [but]







