Magetan (beritajatim.com) – Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufti meninjau langsung lokasi longsor di kawasan wisata Telaga Sarangan, Magetan, pada Kamis (26/2/2026). Kunjungan kerja ini bertujuan untuk memastikan proyek penanganan infrastruktur tersebut dapat tuntas sepenuhnya pada tahun ini.
Ali Mufti menegaskan bahwa kehadirannya di lapangan merupakan bentuk pelaksanaan tugas konstitusional sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) setempat. Ia bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat terkait kondisi geografis yang mengancam keselamatan warga dan wisatawan.
“Anggota DPR menjalankan perintah undang-undang, yaitu memfasilitasi kebutuhan daerah pemilihan. Magetan adalah dapil saya dan saya di Komisi V. Saya mendapat laporan dari Partai Golkar Kabupaten Magetan terkait longsor di Telaga Sarangan,” ujarnya.
Politisi Partai Golkar tersebut telah berkoordinasi intensif dengan jajaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo guna merumuskan langkah percepatan penanganan teknis. Kesepakatan untuk meninjau lapangan diambil guna memastikan kesiapan material dan jadwal pengerjaan yang presisi di lokasi terdampak.
“Kita ingin memastikan persoalan longsor ini segera diselesaikan. Timing-nya jelas, waktunya jelas, dan langkah-langkahnya juga jelas. Yang penting tahun ini harus selesai,” tegasnya.
Ali menambahkan bahwa secara teknis pengerjaan lokasi tersebut tidak menemui hambatan berarti karena skalanya masih dalam jangkauan otoritas terkait. Ia meyakini pihak balai teknis memiliki kemampuan mumpuni untuk mengeksekusi perbaikan jalan yang amblas tersebut dalam waktu singkat.
“Saya kira tidak ada kendala. Bagi BBWS Bengawan Solo ini perkara sederhana dan bisa diselesaikan,” imbuhnya dengan nada optimistis saat berdialog dengan awak media.
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadji, menjelaskan bahwa proses mitigasi saat ini sedang memasuki tahapan pendalaman data teknis geologi tanah. Rencananya, tim teknis akan melakukan pengeboran tanah pada Maret mendatang guna menentukan titik pondasi paling stabil untuk konstruksi baru.
“Bulan Maret nanti akan dilakukan pengeboran untuk melihat kondisi geologi tanahnya. Kita ingin mengetahui pondasi terdalam yang keras sebagai pijakan agar konstruksi lebih kuat,” jelas Gatut.
Proses analisis laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu sebelum masuk ke tahap penyusunan desain akhir bangunan. Dokumen desain teknis tersebut ditargetkan rampung secara menyeluruh dalam kurun waktu satu bulan ke depan.
“Harapannya dokumen desain atau RC sudah siap. Dukungan lainnya adalah dokumen lingkungan yang disiapkan pemerintah daerah melalui SPPL dari Dinas Lingkungan,” paparnya menjelaskan alur birokrasi pengerjaan.
Proyek ini juga telah dilaporkan ke Jakarta sejak Januari lalu dan mendapat sinyal hijau terkait dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Gatut menyebut estimasi biaya tidak terlalu besar karena area terdampak longsor hanya memiliki panjang penanganan sekitar tujuh meter.
Faktor penyebab kerusakan jalan diidentifikasi akibat kombinasi tebing yang curam serta usia konstruksi lama yang masih menggunakan pasangan batu. Indikasi kebocoran pipa PDAM dan tingginya beban lalu lintas kendaraan wisatawan turut memperparah kondisi stabilitas tanah di kawasan wisata unggulan tersebut.
“Karena tebingnya curam, perlu pembatasan kapasitas lalu lintas supaya konstruksi tetap kuat. Pondasi lama bukan beton, hanya pasangan batu. Ditambah ada kebocoran PDAM dan beban kendaraan,” jelas Gatut merinci penyebab teknis kerusakan.
Ke depan, kawasan bendungan Sarangan akan ditata ulang berdasarkan aturan zonasi keamanan bendungan sesuai regulasi kementerian terkait. Area tersebut bakal dibagi menjadi zona inti untuk keamanan struktur, zona fasilitas instrumen, serta zona publik yang dapat diakses secara terbatas.
“Zona publik ini bisa dikerjasamakan dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan nilai tambah, misalnya pengembangan pariwisata. Dari zonasi publik itu nanti bisa ditawarkan produk pemanfaatan,” pungkasnya. [fiq/beq]






