Malang (beritajatim.com) – Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era digital yang berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan, santri didorong untuk mengambil peran sentral sebagai garda terdepan dalam mempertahankan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan ini mengemuka dalam acara Seminar Kepesantrenan yang dihadiri oleh 400 santri di Malang.
Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), M. Hasanuddin Wahid, yang akrab disapa Cak Udin, menegaskan bahwa identitas santri melekat seumur hidup dan identik dengan kecintaan pada tanah air.
“Jadi santri plus mahasiswa itu nilainya lebih. Beban dan tanggung jawabnya juga lebih tinggi. Sekali menjadi santri, selamanya menjadi santri, dan selama itu juga pasti cinta NKRI. Tidak ada yang namanya bekas santri,” tegas Cak Udin di hadapan ratusan mahasiswa di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly (STAIMA) Al Hikam, Malang, Senin (13/10/2025).
Acara yang mengangkat tema “Membangun Karakter Santri Berbasis 4 Pilar Kebangsaan di Era Digital” ini menjadi forum untuk memompa kembali semangat kebangsaan di kalangan generasi muda pesantren.
Cak Udin menyoroti pentingnya peran lingkungan dan figur teladan dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, kecintaan terhadap NKRI di era disrupsi digital tidak bisa tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus dipupuk melalui contoh nyata.
“Kalau mereka melihat para kiai, nyai, gus, ning, dan dosen-dosennya menunjukkan cinta terhadap NKRI, maka secara otomatis para santri akan tumbuh menjadi generasi yang juga mencintai NKRI,” jelasnya.
Ia menambahkan, santri memiliki keunggulan fundamental karena telah dibekali dengan pendidikan nilai, moral, dan adab yang kuat di pesantren. Hal ini menjadi modal besar untuk menjadi individu yang berkarakter unggul di berbagai bidang.
“Mahasiswa yang hebat belum tentu bisa menjadi santri yang hebat. Tapi, santri yang hebat jika melanjutkan kuliah, saya yakin ia akan menjadi mahasiswa yang hebat,” ujar Cak Udin.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang, KH. Muhammad Nafi’, memperkuat pernyataan tersebut dengan menjelaskan bahwa karakter cinta tanah air sudah tertanam dalam sanubari para santri sejak awal.

“Basis karakter santri sudah dihayati dan bahkan dihafalkan, seperti yang termaktub dalam mars dan hymne STAIMA Al Hikam serta trilogi motto kami,” tutur KH. Nafi’.
Lebih dalam, ia memaparkan tiga pilar kecintaan yang menjadi fondasi moral seorang santri, yaitu, Cinta kepada Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) karena diyakini sebagai ajaran Islam paling autentik yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.
Kedua, cinta kepada Nahdlatul Ulama (NU), sebagai wadah perjuangan ide dan gagasan Islam Aswaja di Indonesia. Ketiga, cinta kepada NKRI, karena para ulama NU telah menegaskan bahwa berdirinya NKRI adalah sah secara syariat Islam.
“Tiga cinta ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam diri seorang santri. Melalui forum ini, diharapkan para santri dapat terus menjadi pelopor penguatan nilai kebangsaan dan benteng moral di tengah tantangan zaman,” tegasnya.
Sebagai informasi, kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan civitas akademika STAIMA Al Hikam, termasuk Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Hikam Malang Nyai Mutammimah Hasyim, Direktur Pascasarjana Prof. Kasuwi Syaiban, serta para wakil ketua dan dosen. (dan/kun)






