Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan tinggi. Mahasiswa yang sebelumnya menikmati pengalaman kuliah tatap muka dengan segala interaksi sosial dan praktikum langsung, kini terpaksa beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring. Meskipun tantangan besar mengiringi perubahan ini, ada pula peluang yang muncul dari pengalaman tersebut, terutama dalam dunia kerja.
Bagi banyak lulusan, terutama angkatan 2020 dan 2021, perjalanan menuju dunia kerja tak selalu mulus. Mereka memasuki pasar tenaga kerja di tengah ketidakpastian ekonomi, dengan banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi jumlah karyawan dan beralih ke model digital. Namun, ada juga kisah sukses yang menginspirasi, di mana mahasiswa yang terlatih dalam sistem daring justru mampu memanfaatkan keterampilan digital mereka untuk membuka pintu peluang baru di dunia profesional.
Kesulitan Menembus Pasar Kerja
Gisella, seorang lulusan UNESA angkatan 2020, adalah salah satu contoh nyata tantangan yang dihadapi banyak lulusan baru di tengah pandemi. Meskipun lebih melek terhadap teknologi, dia merasa kesulitan mencari pekerjaan tetap. “Mencari pekerjaan untuk lulusan baru memang sulit. Saya harus terus memasukkan lamaran ke banyak perusahaan,” ujarnya.
Surabaya, sebagai kota metropolitan dengan pasar tenaga kerja yang sangat kompetitif, membuat proses pencarian pekerjaan menjadi semakin berat. Selain itu, banyak perusahaan yang lebih memilih beralih ke pekerjaan remote atau freelance, yang meskipun memberikan fleksibilitas, tidak menjamin kestabilan pekerjaan jangka panjang.
Namun, Gisella menyadari ada sisi positif dari pengalaman kuliah daring yang membantunya dalam pencarian pekerjaan. “Media digital memberi kesempatan untuk mencari pekerjaan freelance, yang meskipun bukan pekerjaan tetap, setidaknya cukup membantu menambah penghasilan,” ungkapnya.
Keadaan ini mencerminkan realita bahwa dunia kerja kini semakin bergantung pada kemampuan teknologi dan digital. Mereka yang terbiasa bekerja secara online dan menguasai berbagai platform digital sering kali memiliki keunggulan kompetitif di pasar yang semakin serba digital ini.
Keuntungan Pengalaman Kuliah Daring
Aini, seorang alumni UPN Veteran Jatim yang baru saja lulus pada Maret 2024, merasakan dampak positif dari pengalaman kuliah daring yang ia jalani selama hampir dua tahun. “Tuntutan yang saya rasakan saat menjadi mahasiswa online sebenarnya cukup menguntungkan. Saya seperti sudah dipersiapkan lebih awal untuk lebih melek terhadap metode-metode yang sering diterapkan di pekerjaan saya sekarang. Jadi, nggak terlalu kaget,” ujarnya.
Aini yang kini bekerja di sebuah lembaga di Surabaya mengungkapkan bahwa kuliah daring mengajarkan banyak hal, seperti cara berkomunikasi melalui platform digital, penggunaan perangkat lunak yang sering digunakan di dunia kerja, dan manajemen waktu yang lebih mandiri. “Meskipun sempat merepotkan, pengalaman itu sangat membantu di dunia kerja,” tambah Aini.
Lebih jauh lagi, pengalaman mengikuti program pertukaran pelajar daring dengan sebuah universitas di Malaysia membuat Aini merasa lebih siap menghadapi dunia kerja global. “Program exchange daring juga memberi saya pengalaman internasional yang bermanfaat, sehingga saat melamar pekerjaan, saya merasa lebih percaya diri.”
Pekerjaan Freelance sebagai Alternatif
Tantangan yang dihadapi oleh lulusan baru juga berhubungan dengan perubahan besar di dunia kerja, di mana banyak perusahaan yang mulai beralih ke pekerjaan fleksibel atau freelance. Di sisi lain, pekerjaan freelance membuka peluang bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan tetap. Media sosial dan platform digital seperti LinkedIn, Upwork, dan Fiverr kini menjadi alat penting dalam pencarian pekerjaan.
Bagi Adi, mahasiswa angkatan 2021 yang memulai perkuliahannya dengan sistem hybrid, pengalaman kuliah daring juga memberikan dampak besar terhadap cara ia memandang dunia kerja. “Memang sulit saat awal kuliah daring, apalagi saat mendaftar jalur mandiri. Banyak kebingungannya. Namun, setelah mulai memahami sistem digital, saya jadi lebih siap menghadapi pekerjaan yang berbasis online,” kenangnya.
Saat kuliah hybrid semakin banyak digelar, Adi merasa beruntung karena bisa bertemu langsung dengan dosen dan teman-teman kuliah di semester 3. Meskipun begitu, ia juga melihat banyak peluang untuk bekerja secara remote yang semakin berkembang. “Pekerjaan freelance dan remote sangat membantu, terutama bagi saya yang sudah terbiasa bekerja dengan sistem daring,” tambah Adi.
Dunia Kerja yang Semakin Digital
Di masa depan, dunia kerja kemungkinan akan semakin bergantung pada teknologi dan digitalisasi. Lulusan yang telah terbiasa dengan sistem perkuliahan daring, yang mewajibkan mereka untuk menguasai berbagai alat komunikasi digital dan platform kerja, tentu akan lebih siap dalam menghadapi pasar kerja yang semakin mengutamakan kemampuan tersebut.
Banyak perusahaan kini mencari kandidat yang tidak hanya memiliki gelar pendidikan, tetapi juga kemampuan untuk bekerja secara mandiri, mengelola waktu dengan baik, dan menguasai teknologi digital. Di sisi lain, pekerja freelance dan pekerjaan remote juga semakin banyak diminati, memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi lulusan baru yang belum menemukan pekerjaan tetap.
Bagi lulusan kampus pasca-pandemi, tantangan mencari pekerjaan tetap memang masih ada, tetapi peluang baru juga semakin terbuka lebar. Mereka yang dapat mengadaptasi diri dengan cepat terhadap teknologi dan memanfaatkan media digital dengan bijak memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses.
Seperti yang dialami oleh Aini, Gisella, dan Adi, meskipun tantangan dunia kerja pasca-pandemi begitu besar, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan adalah kunci utama. Dengan demikian, pengalaman kuliah daring yang dirasa penuh tantangan ternyata bisa menjadi modal berharga untuk memanfaatkan peluang-peluang di dunia kerja yang semakin digital. [beq]






