Ponorogo (Beritajatim.com) – Belum kering dari ingatan kejadian tanah gerak di Desa Tumpuk Kecamatan Sawoo, ada lagi kejadian serupa di Kabupaten Ponorogo. Kali ini tanah gerak terjadi di Dusun Nguncup Desa Bekiring Kecamatan Pulung.
Akibatnya, beberapa rumah terdampak tanah gerak tersebut. Puluhan harus rela untuk meninggalkan rumahnya, untuk tinggal di tempat pengungsian.
Sebab, jika bertahan di rumahnya, warga takut jika sewaktu-waktu rumahnya roboh. Warga juga sering mendengarkan suara gemuruh yang diduga adanya terjadinya pergeseran tanah.
“Yang mengungsi ada 14 kepala keluarga (KK) dengan total 36 jiwa. Warga bertahan di tenda darurat yang dibangun oleh BPBD dan Dinsos Ponorogo,” kata Kepala Desa Bekiring, Agus Santoso, Kamis (25/05/2023).
https://beritajatim.com/berita-redaksi/ketua-umum-amsi-beritajatim-com-mampu-merawat-kepercayaan-dan-jaringan/
Agus menceritakan bahwa kejadian tanah gerak di desanya sudah terjadi pada tahun 2017 dan 2018. Waktu itu, ada warga yang panik hingga akhirnya ada beberapa warga yang melakukan relokasi mandiri. Namun, juga ada yang tetap bertahan di rumahnya yang terdampak. Nah, pada tahun 2023 muncul lagi, setelah ada curah hujan yang tinggi.
“Tahun ini karena ada curah hujan tinggi, akhirnya ada tanah bergerak lagi. Sejumlah warga yang bertahan sebelumnya itu, akhirnya mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Kebutuhan makanan maupun minuman di tempat pengungsian, kata Agus, masih dicukupi oleh pihak Dinsos. Untuk bahan makanan seperti sembako, ada juga yang gotong-royong dari warga sendiri. Dari 14 rumah yang terdampak, ada 9 rumah yang mengalami rusak berat.
“Ada 9 rumah yang mengalami rusak berat,” katanya.
https://beritajatim.com/berita-redaksi/hut-beritajatim-dan-harapan-besar-di-usia-17-tahun/
Sementara itu Suparmi, salah satu warga yang tinggal di tenda darurat mengaku, Ia bersama suaminya nekat meninggalkan rumah satu-satunya, karena takut sewaktu-waktu rumahnya roboh. Sebab, samping kanan dan kiri rumahnya itu, ada yang sudah habis dan mengalami retak-retak.
“Setiap hari bergerak dan sering terdengar suara gemuruh akibat pergeseran tanah yang terjadi,” ungkap Suparmi.
Dia mengaku sudah 2 bulan bertahan di tenda darurat yang didirikan oleh BPBD dan Dinsos Ponorogo itu. Dia berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo segera melakukan relokasi warga yang terdampak tanah gerak itu, sehingga bisa menempati lokasi yang lebih aman.
“Ya pengennya direlokasi ke tempat yang lebih aman,” pungkasnya. [end/but]






