Jakarta (beritajatim.com) – Selama beberapa tahun terakhir JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi membangun sistem agroekologi atau pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Hasilnya tak hanya beras dan sayuran organik, namun perubahan cara pandang masyarakat terhadap dunia pertanian.
Program agroekologi ini tak muncul begitu saja, karena didasarkan pada penilaian lapangan yang panjang dan mendalam. JOB Tomori melihat sejumlah fakta di lapangan, yakni penggunaan pupuk kimia berlebihan, hasil produksi padi konvensional rendah, tingginya penggunaan air irigasi, keterbatasan sarana produksi pertanian, tingginya biaya penanggulangan hama padi, keterbatasan sarana produksi pertanian, dan kelembagaan tani kurang optimal.
Padahal Banggai memiliki potensi berupa 93 persen luas area pertanian dan perkebunan dan masyarakat yang bekerja sebagai petani. Total dari 23 kecamatan, luas padi sawah mencapai 51 621 hektare berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2019.
Pertanian ramah lingkungan dipilih sebagai inovasi sosial. Selain mengaplikasikan prinsip ekologi, menurut Agus Sudaryanto, Relation, Security and Cimmunity Development Manager JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi, program ini juga mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pilar keberlanjutan sosial ekonomi dan lingkungan. “Program ini mengatasi akar masalah dan memberikan solusi jangka panjang yang berkelanjutan,” katanya.
Ada dua kelompok tani di dua lokasi yang mengawali program agroekologi di bawah binaan JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi, yakni Bernas Batui Selatan di Desa Sinorang, Kecamatan Batui Selatan, dan Sumber Tani Lestari di Desa Sumberharjo, Kecamatan Moilong.
“Awalnya saya tidak kenal pertanian ramah lingkungan. Kami menanam padi ya memakai pupuk kimia dan pestisida kimia. Kami dulu kalau belum punya persiapan uang banyak untuk menanam padi, belum merasa tenang,” kata Mundofar, anggota Bernas Batui Selatan.
Kekhawatiran ini tak berlebihan, karena memang ongkos produksi padi tak murah. Pupuk kimia bersubsidi tak mencukupi, sehingga petani harus membeli pupuk kimia non subsidi. Pestisida kimia juga lumayan mahal. “Kalau dikalkulasi, biaya produksi pertanian konvensional di sini Rp 8-10 juta per hektare. Sementara biaya pertanian organik hanya separuh ongkos pertanian konvensional,” kata Lamri, salah satu pendiri kelompok tani Sumber Tani Lestari.
Namun ongkos mahal tak menjamin harga jual yang menguntungkan. Beras konvensional hanya laku Rp 7 ribu per kilogram di pasaran lokal Banggai. Ini membuat petani tak memperoleh nilai lebih dari usaha pertanian yang dilakukan.
Kondisi berbeda justru ditemukan petani pada usaha pertanian organik. Sistem pertanian ramah lingkungan yang dirintis oleh JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi membuat ongkos produksi menjadi lebih murah dan petani lepas dari ketergantungan terhadap pupuk dan insektisida kimia. Ini dikarenakan semua unsur produksi didasarkan pada swadaya petani.
Sebelum bercocok tanam padi, petani sudah mempersiapkan pupuk organik sendiri yang dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan kotoran hewan. Kotoran hewan ini juga diproduksi menjadi biogas yang berguna menggantikan gas elpiji tiga kilogram untuk menyalakan api di dapur.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pertamina”]
Racun hama pun diracik sendiri dengan menggunakan tanaman-tanaman nabati, seperti daun bawang, untuk menghadapi hama wereng dan ulat. Hama tikus juga dihadapi dengan memanfaatkan burung hantu serak Sulawesi yang merupakan predator alami hewan pengerat tersebut. Petani tidak menggunakan racun maupun aliran listrik yang bisa membahayakan manusia dan hewan ternak.
Dari aspek irigasi, sistem agroekologi juga menekankan baku mutu air yang lepas dari cemar zat kimia. “Sebelum masuk ke sawah, air dari aliran irigasi ditampung dulu di kolam berukuran kurang lebih empat kali empat meter persegi atau lima kali empat meter persegi yang ditanami enceng gondok. Enceng gondok ini menyaring air dari kontaminasi bahan kimia atau racun kimia,” kata Lamri.
Saat panen pun, petani menjaga agar padi organik tidak tercampur dengan padi konvensional. Caranya dengan menyisihkan panen padi dari sawah organik yang berada dalam radius dua meter berimpitan dengan padi konvensional. Saat di penggilingan, sebagian kecil padi organik digiling lebih dulu untuk membersihkan mesin giling dari padi konvensional.
Seluruh kegiatan tersebut dikontrol dengan sangat ketat oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani sendiri melalui apa yang disebut sebagai ICS (Internal Control System). “ICS adalah salah satu proses bagaimana kita menjaga lahan mulai irigasi, pengolahan, pembibitan, sampai penggunaan pupuk padat, pupuk cair sampai produksi akhir,” kata Lamri. Beras organik ini kemudian disertifikasi oleh Indonesian Organic Farming Certtification (Inofice) dan menjadi nilai lebih bagi kelompok tani.
Yang menarik dari program agroekologi yang dikembangkan oleh JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi bukan hanya produksi berasa organik, namun kemampuan mengubah cara pandang masyarakat, termasuk menumbuhkan partisipasi dalam merawat alam. Hal ini terlihat dari pelestarian burung hantu melalui peraturan desa di Desa Sumberharjo.
Pemerintah desa melarang perburuan burung hantu dan mengancam hukuman pidana lima tahun kurungan dan denda Rp 100 juta bagi siapa saja yang menembak burung hantu dan merusak rumahnya. Burung hantu tidak boleh diganggu karena merupakan bagian dari sistem pertanian organik dan non organik untuk melawan hama tikus.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pertanian”]
Peraturan desa ini cukup efektif mendisplinkan warga Sumberharjo. Populasi burung hantu terlindungi. Bahkan warga sudah punya kesadaran untuk membawa burung hantu yang terluka atau terperangkap jaring ke tempat karantina yang dikelola masyarakat sendiri. “Sekarang warga sudah sayang juga kepada burung hantu. Kesadaran masyarakat ini jadi kebanggaan saya,” kata Baron Hermanto, Kepala Desa Sumberharjo.
Inilah yang diharapkan JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi. Perubahan menyeluruh terhadap aspek kehidupan masyarakat ke arah yang lebih positif. “Perusahaan pun memetik manfaat dengan adanya peningkatan publica awareness dan dukungan operasional perusahaan,” kata Agus Sudaryanto.
Tahun 2021 ini, pengembangan sistem agroekologi sudah memasuki pengembangan jaringan dan kemitraan, konservasi serak Sulawesi, dan edukasi sosial media. Hal yang serupa akan dilakukan kembali tahun depan dengan lebih kuat. Rencananya pada 2023, perusahaan akan mulai melepaskan masyarakat tani menjadi lebih mandiri dan dilakukan replikasi program. [hen/suf]






