Jember (beritajatim.com) – Era digital Revolusi Industri 5.0 dan hantaman pandemi Covid-19 berdampak pada semakin kompleksnya tuntutan terhadap kemampuan mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan. Demikian disampaikan Muhammad Iqbal, doktor ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (18/11/2022).
Mahasiswa tidak cukup hanya dituntut memiliki kecerdasan hard skill dan soft skill. Ada tiga jenis kecerdasan yang harus dipunyai mahasiswa saat ini.
“Tuntutan tinggi juga ada pada kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan digital,” kata Iqbal yang juga pernah aktif dalam organisasi mahasiswa kritis di zaman pemerintahan Soeharto ini.
Kecerdasan sosial dalah kemampuan untuk peka, peduli, dan penuh empati kepada sesama manusia dan lingkungan masyarakat. “Mahasiswa bertindak dan bertutur berorientasi pada permasalahan dan perubahan sosial, sebagai wujud atau hasil dari proses belajar akademiknya,” kata Iqbal.
Kecerdasan spiritual adalah kesadaran dan kematangan diri untuk menerapkan nilai dan makna keyakinan agama dalam kehidupan sosial. “Sementara kecerdasan digital adalah kemampuan literasi digital yang mencakup empat pilar yaitu keterampilan digital, budaya digital, keamanan digital, dan etika digital,” kata Iqbal.
Iqbal merasa perlu mengingatkan hal ini, karena situasi saat ini berpotensi menyeret mahasiswa dan organisasi mahasiswa dalam arus dilematik, bahkan problematik. “Terlebih situasi hampir seluruh aspek global pun tengah tidak baik-baik saja,” katanya,
Sudah menjadi pengetahuan bersama, bahwa Indonesia memperoleh bonus demografi. Usia produktif setara pelajar dan mahasiswa mendominasi postur kependudukan Indonesia. “Namun, bila menilik Digital Civility Index dari survei Microsoft 2020, warga Indonesia adalah pengguna media sosial paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Ditambah dengan indeks kualitas budaya politik dan kebebasan berpendapat yang alami stagnasi cenderung melemah,” kata Iqbal.
Sementara itu di kampus kebijakan saat ini berpusat pada program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan pada 2022 ada Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). “Sejauh apa kesuksesan program tersebut untuk melahirtumbuhkan generasi yang mumpuni dan berkarakter? Masih cukup panjang rentang waktu pembuktiannya, untuk tak dikatakan masih jauh panggang dari api,” kata Iqbal.
Iqbal menjelaskan, setiap zaman menciptakan sejarah iklim dan budaya akademiknya sendiri. “Zaman orde lama, orde baru dan awal masa reformasi menorehkan tinta sejarah akademik sosial politik mahasiswa. Namun, semua era itu bermuara yang sama: berharap lahir bertumbuhnya kualitas generasi bangsa yang mumpuni baik literasi akademik maupun karakter jati diri sarat tanggung jawab moral etik,” katanya.
“Maka, sudah seharusnya semua civitas akademik lebih mendorong perwujudan nyata dari kebijakan Revolusi Mental pada semua aspek pendidikan tinggi dari pemerintah untuk tak sekadar sebatas slogan. Bila tidak, harapan pada mahasiswa dan ormawa sebagai agen utama perubahan mungkin baru sebatas angan-angan,” kata Iqbal. [wir/beq]






