Jember (beritajatim.com) – Aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, berakhir sekitar pukul 17.45 WIB dengan ditandai lemparan bom molotov dan pembakaran tenda oleh massa, Sabtu (30/8/2025). Namun tak ada kerusuhan maupun bentrokan antara massa aksi dan polisi.
Berdasarkan pantauan Beritajatim.com, massa tinggal kurang lebih 20 orang yang bertahan di depan Mapolres Jember. Sebagian besar massa yang berjumlah ratusan orang dari elemen Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia memilih pulang pada pukul 16.00 WIB.
Para mahasiswa yang bersatu di bawah Amarah Masyarakat Jember itu memilih pulang setelah Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Bobby Adimas Candra Putra bersedia menandatangani empat dari lima sikap mahasiswa. Empat pernyataan yang bersedia ditandatangani Bobby adalah
1. Bebaskan seluruh massa aksi yang ditahan.
2. Usut tuntas dan adili seluruh aparat pembunuh dari aktor lapangan hingga otak pemberi perintahnya.
3. Evaluasi institusi POLRI secara menyeluruh
4. Presiden dan DPR harus segera mengevaluasi segala kebijakan yang tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
Satu poin yang ditolak Bobby adalah ‘Copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo karena telah gagal mengubah wajah represif kepolisian’.
“Saya selaku Kapolres insyaallah mendukung aspirasi Adik-Adik kecuali nomor empat. Bapak Kapolri adalah pimpinan saya. Adapun undang-undang yang mengatur jabatan beliau adalah wewenang Bapak Presiden, sehingga kami tidak memiliki kewenangan. Kami hormat, beliau adalah pimpinan kami,” kata Bobby.
Saat Bobby menandatangani pernyataan sikap dari mahasiswa, sempat terjadi lemparan botol plastik dari massa ke arahnya. Namun penandatanganan tetap dilakukan dan Bobby dikawal kembali ke dalam Mapolres Jember setelahnya.
Setelah penandatanganan tersebut, sikap massa terbelah. Massa dari elemen organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) Cipayung Plus memilih untuk menarik diri dari aksi dan pulang. Namun ada segelintir massa aksi yang menghendaki untuk tetap bertahan dengan alasan Kapolres belum menandatangani semua poin yang disodorkan mahasiswa.
Abdul Azis, koordinator aksi, memutuskan untuk tetap menarik massa. “Perjuangan kita masih panjang. Kita anggap penandatanganan empat poin adalah kemenangan,” katanya.
Setelah massa dari HMI, PMII, GMNI, dan KAMMI pulang, tinggal massa yang tidak beridentitas organisasi. Tak ada bendera organisasi yang dibawa. Mereka memilih berdiri memblokade depan Mapolres Jember.
Namun seiring dengan turunnya senja dan berkumandangnya azan Magrib dari masjid di dalam Mapolres Jember, massa berangsur-angsur berkurang. Apalagi kepolisian telah mengeluarkan seruan agar massa segera pulang.
Kurang lebih hanya tersisa 20 orang yang berdiri di bundaran Jalan Kartini. Mereka kemudian merusak dan membakar tenda bertuliskan Polres Jember yang dipasang di salah satu sudut jalan. Beberapa kali bom molotov dilemparkan ke arah Mapolres Jember. Namun jauhnya jarak pelempar dan sasarannya membuat bom itu hanya menghantam aspal jalan.
Polisi hanya membiarkan massa melemparkan beberapa bom molotov ke arah mereka yang semuanya tidak mengenai sasaran. Tidak ada bentrokan dan kerusuhan. Massa kemudian pergi sembari mencaci maki polisi. [wir]






