Sejarah perekonomian kita sering kali bergerak seperti pendulum, berayun dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain, selalu gelisah mencari titik…
KUMPULAN BERITA Hadipras
Di titik inilah, keadilan menjelma menjadi entitas yang paling ambigu: ia fasih merapalkan pasal, tetapi gagap mengeja kebenaran. Simak opini Hadipras.
Dalam ritus politik modern, ada satu dogma sekuler yang dianggap lebih keramat ketimbang pasal-pasal konstitusi: “Uang adalah pelapis kedap suara terbaik”.
Di sebuah ruang virtual yang menghubungkan Jakarta dengan West Virginia, dua pemikir—Hersubeno Arief dan Rocky Gerung—duduk bersandar pada kursi.
Sejarah tidak pernah berjalan melingkar; ia mengalir seperti arus sungai yang acap kali mengantarkan kita pada tikungan-tikungan tajam yang gamang.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan tahun 2026 ini berada di persimpangan jalan yang ganjil. Di atas kertas, capaian makroekonomi tampak berkilau.
Sejarah manusia adalah sejarah penaklukan. Kita pernah menaklukkan jarak dengan roda, menaklukkan kegelapan dengan api
Bayangkan sebuah rimba yang lebat. Pikiran awam kita akan segera menunjuk harimau yang mengaum lantang atau singa politik yang gemar memamerkan taring di atas podium sebagai penguasa tertinggi.
Dalam ruang rapat berpendingin udara, ekonomi sering kali diringkas menjadi angka statistik yang steril: nilai tukar rupiah, kurva inflasi, atau grafik PDB
Di meja warung kopi, ketika asap rokok berpilin dengan aroma arabika, sebuah pertanyaan menggelitik dilemparkan ke tengah gelanggang





