Pasuruan (beritajatim.com) – Berdirinya sebuah wisata sumber air Banyu Biru yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan menyimpan banyak sejarah. Hal ini terbukti dengan beberapa bangunan dan prasati yang ditemukan diwilayah pemandian Banyu Biru.
Menurut juru kunci wisata Banyu Biru, Subandi mengatakan bahwa terbentuknya pemandian Banyu Biru ini pertama kali ditemukan oleh raja kerajaan Mojopahit pada tahun 1900an. Saat itu raja Majapahit Brawijaya 5 sedang melakukan perjalanan menuju lereng Gunung Bromo.
Saat itu para rombongan raja dan juga prajurit melakukan perjalanannya dengan cara berputar dengan melewati Lawang, Singosari dan kemudian berhenti lama di Kecamatan Winongan. Rombongan raja ini sebelumnya tak pernah lama saat melintasi di suatu tempat, namun saat berhenti di Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan berhenti hingga tiga tahun lamanya.
“Sangking lamanya, para rombongan raja dan juga prajurtnya sampai mendirikan pemukiman dan membagi sumber air yang dulunya masih berbentuk telaga dan diberi nama menjadi telaga wilis ini menjadi dua bagian. Bagian pertama di gunakan untuk pemandian raja dan rombongan pria, sementara satu lagi digunakan untuk pemandian perempuan,” jelas Subandi, juru kunci pemandian Banyu Biru.
Setelah menempati dan merasakan sumber tersebut, para raja dan rombongan kembali melanjutkan perjalanannya ke lereng Gunung Bromo dan menetap disana. Hal ini terbukti dengan masih kentalnya agama Hindu yang masih dianut oleh masyaraka suku tengger saat ini.
Sehingga hal ini menjadikan Banyu Biru menjadi salah satu sumber air suci yang sangat dipercayai oleh masyarakat Suku Tengger. Bahkan sampai saat ini jika masyarakat Suku Tengger melakukan upacara adat Kasada tak sering untuk melakukan pensucian diri di pemandian air Bbanyu Biru.
“Banyu Biru ini merupakan salah satu sumber air suci di wilayah Jawa Timur. Bahkan tak jarang warga dari Bali sengaja datang kesini untuk melihat langsung air yang selama ini diyakini suci, bahkan ada yang percaya jika air di sini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit,” tutupnya.
Diketahui saat ini sumber pemandian air Banyu Biru ini dikelolah oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Namun dalam pengelolaannya, masih banyak fasilitas yang rusak bahkan tak layak untuk digunakan. (ada/kun)






