Mojokerto (beritajatim.com) – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto merilis hasil padi tahun 2023 yakni sebesar 315.200 ton dari 48.836 Ha luas area lahan yang ditanam tersebar di 18 kecamatan yang ada. Jika dirata-rata, produktivitas padi di angka 6.454 kg per hektar per tahun.
Sedangkan hingga bulan Oktober 2024, hasil produktivitas padi di Kabupaten Mojokerto yakni sebanyak 292.216 ton. Sementara hasil komoditas jagung di tahun 2023 sebesar 249.435 ton dari 33.404 Ha luas area lahan yang ditanam. Rata-rata produktivitas jagung di angka 7.467 kg per tahun.
Hasil panen kedua komoditas tersebut jauh melebihi kebutuhan konsumsi penduduk Kabupaten Mojokerto yakni sebesar 120.000 ton beras per tahun untuk 1,1 juta jiwa. Sementara kebutuhan jagung penduduk Kabupaten Mojokerto 1.235,6 ton per tahun
Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, Nuryadi mengatakan, selain komoditi padi, potensi Kabupaten Mojokerto mulai tahun 2021-2023 trend jagung naik. “Tahun 2021-2022 naik, 2022-2023 naik dan tahun 2024 ini belum batas akhir ya. Insya Allah juga akan mengalami kenaikan,” ungkapnya, Sabtu (2/11/2024).
Masih kata Plt Camat Kutorejo ini, komoditi padi dan jagung di Kabupaten Mojokerto setiap tahun mengalami surplus. Untuk area tanaman jagung di Kabupaten Mojokerto terbanyak ada di wilayah Kecamatan Dlanggu dan Puri karena tanah di dua kecamatan tersebut cukup berpengaruh.
“Iming-iming hasil jagung juga bagus, seperti jagung untuk pakan ternak bagus harganya. Tentu mereka memilih jagung dengan masa tanam yang cukup pendek dan tidak rentan terhadap hama, pasca panen juga relatif lebih bagus. Sehingga mereka berlomba-lomba menanam jagung. Masa tanam jagung hampir sama dengan padi,” katanya.
Pola tanam para petani di Kabupaten Mojokerto dengan masa tanam yang hampir sama antara padi dan jagung bergantian. Yakni padi, padi, jagung. Namun ada juga yang menanam padi, jagung, jagung. Pola tanam padi, jagung, jagung ada di dua kecamatan tersebut yakni Kecamatan Dlanggu dan Puri.
“Meskipun beberapa kecamatan juga ada potensi jagung tapi tidak sebanyak dua kecamatan itu. Kalau daerah lereng, seperti perbukitan mereka tidak mungkin tanam padi, tanamnya kan jagung. Padi hampir seluruh kecamatan, mungkin hanya beberapa desa saja yang tidak ada karena kesulitan air. Selain itu juga ada polowijo,” jelasnya.
Selain jagung, juga ada tanaman kedelai, kacang tanah dan cabai. Menurutnya ketahanan pangan di Kabupaten Mojokerto dinilai cukup bagus. Pihaknya belum bisa mengetahui produktivitas kedua komoditi tersebut di tahun 2024 karena menyisakan dua bulan lagi.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura, Disperta Kabupaten Mojokerto Achmad Faisol menambahkan, selain padi dan jagung, Kabupaten Mojokerto juga menyumbang komoditi pangan Jawa Timur untuk kedelai, bawang merah dan cabai. “Kita ikut berkontribusi di lima komoditas ini,” tambahnya.
Lima komoditi tersebut merupakan komoditi strategis yang ada di Disperta Kabupaten Mojokerto. Untuk sentra produksi cabai ada di Kecamatan Dawarblandong dan Jetis. Menurutnya, di Kecamatan Pacet ada petani bawang merah tapi tidak seluas dua kecamatan tersebut. Sedang sentra bawang merah ada di Kecamatan Pacet dengan sebaran di Kecamatan Trowulan dan kemlagi. [tin/ian]






