Jakarta (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah RI meluncurkan strategi “Bagasi Ringan” melalui penyelenggaraan Expo UMKM Nasional di tiga wilayah Indonesia untuk mendorong jemaah membeli oleh-oleh di dalam negeri sebelum keberangkatan. Selain memangkas beban muatan jemaah saat pulang dari Arab Saudi, pemerintah juga mengoptimalkan lobi di 280 hotel Mekkah dan Madinah sebagai gerai masakan nusantara seperti bakso dan rawon untuk mengobati kerinduan jemaah selama di Tanah Suci.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Prof. Dr. Jaenal Effendi, menjelaskan bahwa pameran UMKM ini akan dibagi dalam zona Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Langkah ini diambil agar produk-produk saleable seperti sajadah, tasbih, dan kerajinan lokal dapat terserap oleh jemaah sejak di tanah air, sehingga mereka tidak lagi terbebani oleh urusan logistik oleh-oleh saat menjalankan ibadah.
“Rencananya di Indonesia, nanti kita pengennya kita akan split di Indonesia Timur, Indonesia Tengah, Indonesia Barat. Sehingga kita punya produk yang saleable-lah, yang bisa terjual dengan baik untuk di oleh-oleh haji,” ujar Jaenal Effendi di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari UMKM binaan perbankan hingga berbagai asosiasi pengusaha lokal. Para pelaku usaha daerah, termasuk pengrajin dari wilayah Jawa Timur yang dikenal memiliki basis UMKM kuat, kini mendapatkan karpet merah untuk memasok kebutuhan haji tahun 1447 H/2026 M.
Selain penguatan di hulu, inovasi layanan jemaah juga menyasar area penginapan di Arab Saudi. Pemerintah memanfaatkan hak sewa penuh pada 280 hotel untuk membuka tenan makanan di area lobi. Uniknya, gerai-gerai yang menjual kuliner khas seperti rawon dan kopi Indonesia ini akan dikelola oleh para mukimin (warga Indonesia yang menetap di Saudi) serta melibatkan perusahaan logistik nasional.
“Lobi hotel ini biasanya kadang jemaah itu rindu masakan-masakan khas yang lainnya yang tidak terdapat di menu haji itu, misalnya bakso, kopi, rawon. Sehingga di lobi ini kita buat tenan-tenan. Siapa penghuninya? Adalah para masyarakat kita yang di Saudi. Jadi di seluruh hotel, kurang lebih sekitar 280-an hotel yang ada itu nanti kita di lobinya manfaatkan untuk merasakan masakan khas Indonesia,” ungkap Jaenal.
Terkait aspek legalitas, pemerintah memastikan bahwa regulasi penggunaan ruang lobi hotel sedang digodok secara matang agar sesuai dengan aturan di Arab Saudi. Mengingat hotel telah disewa secara penuh, optimalisasi ruang publik di dalam hotel menjadi hak pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kenyamanan jemaah.
Sebagai pelengkap ekosistem digital, sebuah platform business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan jemaah dan importir dijadwalkan meluncur pada awal Februari 2026. Platform ini diharapkan menjadi solusi modern bagi jemaah yang ingin berbelanja tanpa ribet sekaligus menjadi pintu gerbang UMKM lokal menuju pasar global.
“Harapannya platform ini bisa di awal bulan Februari ya, mudah-mudahan bisa meluncur. Kita matangkan terus sehingga ini menjadi platform yang betul-betul membanggakan, betul-betul menjadi business matching antara pelaku usaha dengan pelaku usaha yang lain,” pungkasnya. [ian/beq]






