Ponorogo (beritajatim.com) – Menjelang Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa Nasional (Porsenasma) V PT PGRI tahun 2025, STKIP PGRI Ponorogo resmi melepas 74 atlet dan 22 official dalam acara pembekalan kontingen yang digelar di kampus Jalan Ukel, Kertosari, Babadan, Ponorogo.
Acara pembekalan yang berlangsung pada Sabtu (2/8/2025) itu tidak sekadar menjadi seremoni, namun juga menjadi ruang pematangan strategi, penyuntikan motivasi, hingga afirmasi mental bagi para mahasiswa yang akan bertanding. Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Ahmad Nur Ismail, melepas langsung kontingen dengan penuh semangat.
“Persoalan medali yang diraih nantinya adalah anugerah dari Tuhan. Terpenting sekarang mempersiapkan diri dan menjaga kebugaran fisik,” ujar Ahmad Nur Ismail.
Ia menekankan bahwa kemenangan bukan hanya tentang perolehan medali, tetapi juga kemampuan mengevaluasi diri dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Evaluasi menurutnya menjadi kunci keberlanjutan prestasi.
“Setiap selesai pertandingan perlu evaluasi, baik secara mandiri maupun bersama pembimbingnya. Evaluasi untuk mengukur, menilai, dan mengetahui sejauh mana pertandingan yang telah dilakukan,” lanjutnya.
Bagi Ahmad Nur, Porsenasma merupakan lebih dari sekadar ajang lomba. Ia melihatnya sebagai wadah aktualisasi diri mahasiswa, tolok ukur potensi, dan medan pembentukan karakter. Ia pun mengingatkan para atlet untuk tampil fokus dan percaya diri.
“Fokus dalam setiap pertandingan dan hilangkan rasa takut,” pesannya.
Kontingen STKIP PGRI Ponorogo akan mengikuti 17 cabang olahraga dan seni, termasuk pencak silat, bola voli (putra dan putri), atletik, musik, baca puisi, penulisan cerpen, catur, fotografi warna, poster, film pendek, E-Sport, dan futsal.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Heru Setiawan, menekankan bahwa tantangan utama di Porsenasma adalah kestabilan mental dan emosi.
“Dalam setiap pertandingan itu tensinya pasti tinggi. Kalian harus tetap dingin dalam setiap laga dan lakukan yang terbaik,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Kontingen, Rita Ristiani, menyambut baik lokasi pelaksanaan Porsenasma yang digelar di Madiun. Ia menilai lokasi tersebut memberi keuntungan bagi kontingen STKIP PGRI Ponorogo karena mengurangi beban mobilitas.
“Keikutsertaan ini adalah bentuk pembelajaran dan pengalaman berharga, baik dari sisi kompetisi maupun pengembangan karakter mahasiswa. Kami berharap ini bisa menjadi langkah awal yang lebih solid untuk tahun-tahun berikutnya,” tutup Rita. [end/beq]






