Bondowoso (beritajatim.com) – Menjelang operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taman Krocok di Desa Taman, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso, menggelar pelatihan keamanan pangan pada Senin (5/1/2026).
Pelatihan tersebut menjadi tahapan krusial untuk memastikan seluruh makanan yang disajikan kepada penerima manfaat aman, higienis, serta memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah.
Pemilik yayasan pengelola SPPG Taman Krocok, H. Muhyit, menyampaikan bahwa saat ini terdapat 47 relawan yang telah direkrut dan dipersiapkan untuk mendukung operasional SPPG. Ia berharap seluruh tahapan persiapan dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.
“Harapan kami, mudah-mudahan kerja kita dilancarkan oleh Allah. Minimal usaha ini bisa berjalan satu periode kepemimpinan. Kalau Bapak Prabowo terpilih lagi, maka program ini bisa berjalan hingga 10 tahun,” ujar Muhyit.
Ia menambahkan, SPPG Taman Krocok dijadwalkan mulai tahap uji coba pada 6 Januari 2026, sebelum resmi beroperasi penuh pada 8 Januari 2026. Pada tahap awal, layanan SPPG ini akan menjangkau empat desa, yakni Desa Taman, Sumberkokap, Paguan, dan Triwungan.
Camat Taman Krocok, Edy Mulyono, menegaskan bahwa pelatihan keamanan pangan tidak boleh dipandang sebagai kegiatan formalitas semata. Menurutnya, Program MBG merupakan cita-cita besar pemerintah dalam membangun generasi yang sehat, kuat, dan cerdas.
“Kalau sudah urusan makanan, jangan sampai ada keteledoran. Ini urgen sekali. Gizi anak-anak kita sangat ditentukan oleh bapak ibu sekalian yang bertugas di sini,” tegas Edy.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengamanan area SPPG selama operasional berlangsung. Setiap orang yang masuk ke area tersebut harus memiliki izin yang jelas demi menjaga keamanan dan kualitas layanan.
“Jangan sampai ada orang asing masuk ke area ini tanpa izin, meskipun itu keluarga sendiri. Tugas kita menjaga apa yang sudah dipercayakan pemerintah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Taman Krocok, dr. Joko Ady Purnomo, menjelaskan bahwa kualitas gizi makanan memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan kecerdasan anak.
“Kalau kandungan gizinya kurang, itu bisa berpengaruh pada IQ anak. Bisa turun sampai 90. Semua berawal dari gizi. Jangan sampai kejadian yang tidak diharapkan, seperti keracunan makanan, terjadi di sini,” katanya.
Ia menambahkan, setiap relawan memiliki tanggung jawab sesuai zona kerja masing-masing, mulai dari pengolahan bahan pangan hingga distribusi makanan. Pengawasan ketat terhadap bahan makanan dan pembatasan akses orang luar menjadi hal yang wajib diterapkan.
Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Haris Ahmadi, menjelaskan bahwa pelatihan keamanan pangan ini mencakup enam materi utama, termasuk higienitas pangan dan inspeksi kesehatan lingkungan. Relawan yang mengikuti pelatihan akan memperoleh sertifikat setelah dinyatakan lolos uji laik sanitasi.
“Makanan harus higienis, aman dari bahan berbahaya, bakteri, dan tidak menimbulkan alergi. Kita juga akan lakukan inspeksi lingkungan, jangan sampai SPPG-nya bersih tapi lingkungan sekitarnya justru memicu penyakit,” jelas Haris.
Ia menambahkan, air yang digunakan di SPPG harus memenuhi standar nol bakteri E-coli, sehingga layak langsung dikonsumsi. Selain itu, sampel alat masak seperti wajan, panci, dan ompreng akan diuji tingkat kebersihannya setelah operasional berjalan.
Pada tahap awal, SPPG Taman Krocok ditargetkan melayani sekitar 1.000 penerima manfaat. Jumlah tersebut akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 2.500–3.000 orang, seiring kesiapan sarana dan sumber daya manusia.
“Ada SPPG yang langsung melayani 3.500 sampai 4.000 orang, akhirnya nasinya belum matang sempurna, ayamnya masih ada darah. Itu yang harus dihindari,” ujarnya.
Pelatihan keamanan pangan ini juga mendapat sambutan antusias dari para relawan. Salah satunya Sukanda (60), relawan bagian keamanan yang berdomisili di sekitar lokasi SPPG Taman Krocok.
“Alhamdulillah, meski sudah lansia masih bisa bekerja. Program MBG ini menyentuh semua lapisan usia, tidak hanya yang muda-muda,” katanya.
Ia mengaku bersyukur dapat bergabung sebagai relawan, mengingat tingginya animo masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pelamar kerja di SPPG Taman Krocok mencapai lebih dari 300 orang. [awi/beq]






