Surabaya (beritajatim.com) – Suasana RW V Dupak Bangunrejo, Kota Surabaya, sore ini berubah menjadi lautan kegembiraan ketika sekitar 1.000 warga dari seluruh RT berpartisipasi dalam pawai peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Dengan tema “Sound Horeg”, tiap RT menampilkan kreativitasnya dalam arak-arakan yang melibatkan bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak dalam balutan kostum meriah.
Salah satu penampilan paling menarik datang dari RT 5 Gang I Dupak Bangunrejo, yang menghadirkan Sanggar Omah Ndhuwur pimpinan Abdoel Semute. Sanggar ini menampilkan kesenian tradisi Dongkrek, warisan khas Kabupaten Madiun. Dengan iringan kenong, simbal, gong, dan kendang, empat penari bertopeng berkarakter khas berbaur dengan anak-anak berbusana lurik. Dentuman sound horeg berpadu dengan hentakan musik dongkrek, menciptakan nuansa meriah yang mengajak warga ikut berjoget bersama.

Kesenian dongkrek sendiri dipercaya memiliki fungsi sebagai seni ruwatan, dan pernah tampil dalam kirab di Istana Negara pada tahun 2005. Hadirnya dongkrek di tengah suasana kampung Dupak Bangunrejo menjadi simbol penting bahwa tradisi lokal bisa hidup berdampingan dengan ekspresi budaya populer warga.

“Saya merasa sangat puas dengan penampilan hari ini. Persiapan kami cukup singkat setelah mendapatkan alat-alat dongkrek dari maestro Trisakti Hendrianto atau Andre Dongkrek pada 10 Juli lalu. Saya berharap kesenian ini terus hidup, menjadi media masyarakat untuk memperbaiki generasi, sekaligus membuat Bangunrejo lepas dari stigma masa lalu sebagai kampung lokalisasi,” ungkap Abdoel Semute usai pementasan.

Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari Mbangunredjo Art Festival 2025, sebuah festival seni yang digagas warga Dupak Bangunrejo untuk menghidupkan ruang budaya kampung. Puncak festival direncanakan berlangsung pada 25–26 Oktober 2025 mendatang, yang akan menghadirkan berbagai penampilan seni tradisi, kontemporer, dan partisipasi komunitas.
Peringatan kemerdekaan kali ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Dupak Bangunrejo semakin peduli pada kesenian tradisi. Dukungan dari pengurus RT turut memperkuat komitmen warga untuk membangun identitas baru: sebuah kampung yang mampu move on dari masa kelam, menuju ruang budaya yang inklusif dan penuh harapan. [but]






