Malang (beritajatim.com) – Kontroversi keberadaan sound horeg di Jawa Timur memancing sejumlah komentar warganet di berbagai platform media sosial. Yang menarik, meski kontroversi sound horeg meluas, penyewa sound di tahun 2025 ini justru mengalami peningkatan di banding tahun-tahun sebelumnya.
Bagi Agus Wahyudi (40), sound horeg tak lebih dari sebuah hobi akan mengumpulkan piranti elektro yang menghasilkan suara merdu.
“Awalnya sih cuma hobi saja. Dulu tahun 2017 di Malang itu kan booming miniatur truk mini yang dikasih sound system ya. Nah dari sini saya kok kepengen yang lebih besar,” ungkap Yudi, sapaan akrabnya.
Pria 40 tahun yang tinggal di Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang itu bercerita, dari tahun 2017, dirinya mulai membeli satu per satu piranti sound system.
“Kalau penghasilan utama bukan dari sound horeg. Ada usaha keripik singkong yang kami kelola sejak lama. Jadi sound horeg ini hanya hobi. Hasil dari penyewaan sound horeg biasanya saya belikan alat-alat sound lagi,” bebernya.
Awal mula, Yudi mengaku membeli satu set sound horeg yang jika dirupiahkan, mencapai satu setengah miliar rupiah.
“Satu set sound horeg harga Rp 1,5 miliar, itu ukuran sedang. Yang mahal dari itu juga ada, diatas Rp 3 miliar. Lihat kualitas barangnya. Seperti punya pabrik rokok besar dan stasiun televisi nasional itu bisa sampai tiga miliar lebih itu,” ucap Yudi.
Satu set sound horeg, kata Yudi, sudah terdiri dari speaker activ, power, ampliver, kabel, genset, mixer hingga aksesoris tambahan.
“Mixer tergantung selera kita merk-nya apa. Kalau saya speaker pakai BNC atau RCF,” tuturnya.
Dengan nama Sinar Jago Sound Horeg, Yudi juga mempekerjakan lebih dari 20 orang. Karena tak paham dunia elektro, Yudi mempercayakan seluruh piranti sound miliknya pada adik kandungnya.
“Saya tak paham elektro. Ya karena hobi saja sih. Wong saya nyoder saja gak bisa. Jadi yang merawat sound saat ini adik saya, dibantu teman-teman juga,” tuturnya.
Yudi menjelaskan, tidak mudah merawat seluruh piranti sound horeg. “Harus sering dibersihkan. Apalagi kalau hujan, jangan sampai kena air hujan. Harus terlindungi. Khusus power dan speaker butuh perawatan rutin,” terangnya.

Operator Sound Jadi Kunci Kualitas Suara
Agar tidak terkena air, Yudi membawa terpal khusus untuk melindungi sound horeg miliknya. Dimata Yudi, menghasilkan suara yang menggelegar namun merdu ditelinga sangat sulit.
“Menjaga kualitas suara sound sangat sulit. Nah ini tugas dari operator. Kalau operatornya mahir dan alat bagus, suara bisa maksimal,” katanya.
Honor satu kali event bagi operator sound bisa mencapai jutaan rupiah. Jumlah fee operator juga berbeda. Melihat lokasi acara dan event yang digelar.
“Kalau cuma nyetel musik biasa ya murah, honor Rp 500 ribu. Untuk orkes atau campursari biasanya Rp 1 juta. Khusus sound horeg di event event tertentu bisa lebih tinggi lagi honornya,” tegas Yudi.
Sound horeg milik Yudi, sambungnya, paling laris untuk event karnaval serta kesenian Bantengan. Satu kali sewa, harga yang di patok Yudi tergantung berapa banyak piranti sound yang ingin disewa seseorang.
Khusus di Malang Raya, rata rata tarif sewa satu set sound horeg lengkap dengan lampu warna warninya sebesar Rp 30 juta. “Rata rata harga segitu. Itu sudah lengkap. Tiga puluh juta dengan kekuatan 90.000 watt,” ucapnya.
Tarif sewa juga berbeda sesuai kebutuhan piranti sound yang diinginkan penyewa. Sementara waktu sewa, biasanya dimulai dari 8 jam pertama.
“Istilahnya cek sound, 8 jam. Kemudian masuk ke acara inti bisa 8 hingga 10 jam. Kemudian kita lihat rute dari event-nya juga. Sehingga waktu sewa biasanya 20 jam. Harga ada yang Rp 30 juta, ada yang di atas Rp 35 juta tergantung tempat ada acaranya,” beber Yudi.
Tarif sewa untuk luar kota, kata Yudi, akan berbeda lagi. “Pernah kita ke Pati, Jawa Tengah. Disewa Rp 50 juta dengan 90.000 Watt dan 12 subwoffer,” ucapnya.
Sekali sewa, Yudi mempekerjakan 14 orang untuk mengawal satu set sound horeg miliknya. Dari 14 orang itu, honor yang diterima berbeda beda. Mulai dari operator sound, operator lighting, sopir, hingga bagian perlengkapan.
“Paling besar honor operator sound, bisa Rp 1,5 juta. Tergantung tempat dan eventnya,” kata Yudi.
Banjir Job di Karnaval 2025
Yang menarik, meski kontroversi sound horeg meluas di Jawa Timur, penyewa sound di tahun 2025 ini, justru mengalami peningkatan di banding tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Yudi, khusus di bulan Agustus 2025 nanti, ia sudah mendapatkan job di 20 titik atau lokasi acara. Tak hanya di Malang Raya, beberapa kota kota di Jawa Timur seperti Lumajang, Blitar hingga Banyuwangi, juga kerap menyewa sound horeg miliknya.
“Agustus sudah ada agenda di 20 titik. Kami punya dua set sound horeg, dua truk mithsubhisi dengan 24 subwoffer. Kalau ditotal nilainya ya tiga miliaran,” beber Yudi.
Mayoritas penyewa, lanjut Yudi, biasanya bebrasal dari komunitas sekumpulan pemuda. Lalu ada pihak dari RT dan RW hingga perorangan.
Piranti sound horeg yang Yudi miliki, mayoritas produk buatan Eropa dan China. Termasuk satu unit power crown 12.000i seharga Rp 98 juta. Alat tersebut, berfungsi melembutkan suara meski terdengar menggelegar.
“Dengan alat itu suara bisa lembut dan enak didengar,” Yudi mengakhiri. (yog/but)






