Surabaya (beritajatim.com) – Musisi senior sekaligus ikon jazz Indonesia, Indra Lesmana, melontarkan kritik pedas terhadap maraknya festival jazz yang dinilainya telah kehilangan esensi.
Melalui unggahan di Instagram Story pada Jumat (11/7/2025), pria berusia 59 tahun itu menyampaikan keresahannya terhadap penyelenggaraan festival jazz yang kini lebih banyak diisi oleh musisi non-jazz.
Indra menilai bahwa semakin sedikit musisi jazz murni yang mendapatkan panggung dalam acara yang mengusung label “jazz festival”. Menurutnya, hal ini bukan hanya menyesatkan publik, tapi juga berpotensi mengaburkan identitas budaya musik jazz itu sendiri.
“Ketika festival atau tempat pertunjukan menyebut diri mereka ‘jazz’, tetapi sebagian besar berisi musik dengan genre yang tidak terkait, mereka: menyesatkan penonton, mengikis visibilitas seniman jazz, melemahkan identitas budaya jazz itu sendiri,” tulisnya.
Ia menegaskan pentingnya integritas dalam penyelenggaraan sebuah acara, terlebih jika membawa nama besar “Jazz”. Indra meminta para promotor dan penyelenggara untuk lebih bertanggung jawab dalam menyusun kurasi acara, agar tidak hanya mengejar tren pasar semata.
“Silakan saja bikin festival, tapi tetap bertanggung jawab terhadap apa yang kita suguhkan. Kalau memang tidak relevan untuk dinamakan sebuah Jazz Festival, jangan dipaksakan,” imbuh Indra.
Kritik ini pun memicu diskusi di kalangan pecinta musik Indonesia. Sebagian besar mengapresiasi keberanian Indra menyuarakan hal yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di balik panggung.
“Setuju mas @indralesmana Saya juga heran selama ini festival jazz isinya musik2 POP bahkan sekelas Java Jazz Festival juga begitu. Bahkan yang baru selesai Prambanan Jazz Festival ada musik country. Piye tho iki,” komen (et) unea***.
Terlebih fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Seiring dengan meningkatnya popularitas festival musik di Indonesia, sejumlah acara bertajuk “jazz” mulai menampilkan lineup yang didominasi musisi pop, R&B, hingga EDM. Meski tujuan utamanya mungkin untuk menarik massa lebih luas, hal ini justru dianggap menggerus karakter asli dari festival tersebut.
“Memang jazz punya ciri khasnya sendiri. Dan ga bisa dicampur aduk dengan genre lain. Karena jazz dari dulu boleh dibilang melawan arus bukan mencari popularitas melainkan mencari penikmat musik jazz itu sendiri. Jazz bisa bertahan dari dulu karena adanya para penikmat musik jazz, jadi apa yg dikatakan bang indra memang tepat,” ujar (et) uccy***.
Indra Lesmana sendiri dikenal sebagai salah satu pilar penting dalam perkembangan musik jazz di Tanah Air. Kiprahnya selama lebih dari tiga dekade tak hanya sebagai musisi, tetapi juga produser dan pendidik, membuat pendapatnya kerap dijadikan rujukan dalam komunitas musik. (fyi/kun)






