Sorotan

Membaca Cerpen Aan Haryono

Standar Karakter Cerpen Koran

Ribut Wijoto

Sejak tahun 1960-an, cerita pendek (cerpen) tumbuh berkembang pesat di Indonesia. Pertumbuhan ini tidak lepas dari peran media massa, utamanya koran, yang hampir tiap minggu menyediakan halamannya untuk dipajangi cerpen. Karakter cerpen pun bermetamorfosis. Mengalami perubahan. Pada zaman Idrus, cerpen bisa sangat panjang. Tak hanya jumlah halaman, struktur cerpen berangsur-angsur berubah. Mungkin disebabkan termuat di koran, karakter cerpen terlihat seperti mengikuti karakter koran.

Uniknya, di saat sekarang bermunculan media online (portal berita) dan media sosial, karakter cerpen koran tetap dominan. Entah karena sudah telanjur melekat dalam benak pembaca (juga pengarang) atau mungkin karakter cerpen koran memang paling sesuai dengan kehendak zaman. Sebuah zaman yang semakin lama semakin tidak betah dengan kompleksitas dan segala sesuatu yang berbau kerumitan.

Lantas, bagaimanakah karakter dan wujud cerpen koran?

Cerpen Aan Haryono, berjudul “Mati Sahid” (dimuat Jawa Pos, 13 November 2011), mungkin mewakili karakter standar cerpen koran. Karakter cerpen yang sesuai dengan status koran sebagai media massa harian. Konflik berada di muka dan tema bersifat aktual.

Cerpen berisi rangkaian konflik ataupun kejutan bagi pembaca. Dalam alur lurus, konflik bergerak dari yang paling rendah menuju puncak konflik di akhir cerita. Tetapi Aan tidak melakukan itu. Dia menaruh dua konflik besar di awal dan akhir. Sehingga, cerpen diawali dengan konflik dan diakhiri dengan konflik pula.

Konflik awal tampaknya difungsikan untuk kejutan. Pembaca langsung disuguhi peristiwa besar. Setelah perhatian pembaca terbetot, Aan menurunkan konflik dan bergerak lurus menuju konflik besar di akhir cerita.

Teknik penempatan konflik ini sangat mungkin sesuai dengan karakter koran. Apa sebab? Situasi pembaca cerpen di koran berbeda jauh dengan pembaca cerpen di dalam buku. Dalam membaca cerpen dalam buku, konsentrasi pembaca lebih terfokus. Pembaca hanya menghadapi satu pilihan tulisan, yakni cerpen.

Lain halnya dengan pembaca cerpen koran. Pembaca memiliki pilihan banyak tulisan. Dalam satu koran, bisa jadi, terdapat lebih dari 100 tulisan. Cerpen hanya menjadi salah satu bagiannya. Pembaca mungkin hanya membaca judul dan alinea pertama dan selanjutnya segera bergerak membuka halaman lain.

Tetapi jika pada alinea pertama perhatian pembaca sudah tersedot, sangat mungkin, dia bakal melanjutkan untuk membaca alinea-alinea berikutnya. Berbeda bila alinea pertama tanpa kejutan. Pembaca sangat mungkin memilih berpindah ke tulisan lain.Padahal mungkin saja, jika tidak berpindah, pembaca bakal menemukan konflik hebat di tengah atau akhir cerita.

Teknik kejutan awal itulah yang dipakai Aan. Lihat saja, dia membuka cerita dengan kalimat cukup menyita sekaligus membangkitkan penasaran: Subuh itu membuat Ghani merinding. Tangannya bergetar kencang. Lehernya mulai berair. Denyut jantungnya menguat. Belum selesai imam masjid bangkit dari duduknya, semua makmum menyimpan rasa penasaran. Sorot mata semua tertuju pada makmum di barisan kedua. Pak Magbul. Ia belum juga bangkit dari sujudnya.

Ada peristiwa tak lazim dalam alinea pertama cerpen Aan. Tokoh Magbul meninggal saat salat subuh. Apalagi, dia meninggal dalam posisi sujud. Sontak peristiwa itu membuat semua makmum yang mengikuti salat jamaah terkejut. Sebuah kejutan yang juga bisa menyita perhatian pembaca.

Dari keterkejutan itu, perhatian pembaca tersedot. Pembaca penasaran ingin tahu sebab-sebab kematian tokoh Magbul. Maka, pembaca pun seperti terikat. Tak kuasa untuk tidak melanjutkan membaca alinea-alinea berikutnya. Pembaca disodori konflik sehingga terikat untuk mengetahui asal mula dan akhir dari konflik tersebut.

Teknik kejutan di awal ini berbeda jauh dengan gaya cerpen lama yang berkarakter buku. Semisal cerpen-cerpen Pramoedya Ananta Toer dalam kumpulan Cerita dari Blora atau juga kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dari Budi Darma. Pada kedua buku tersebut, cerpen kerap kali dimulai dengan landai. Tanpa kejutan. Kadang justru bukan peristiwa tetapi diskripsi lokasi. Pemilihan itu tidak mengganggu karena pembaca memang berniat membaca sebuah karya sastra, karya berbentuk cerpen. Dia tidak dihadapan dengan banyak pilihan tulisan seperti di koran. Sebab di koran, cerpen musti berebut pesona di antara jajaran berita kriminal, berita ekonomi, berita politik, berita olahraga, bahkan juga dengan iklan. Maka, cerpen koran musti mampu membetot perhatian pembaca, bahkan sejak alinea pertama.

Setelah perhatian pembaca tersedot, pada cerpen “Mati Sahid”, Aan bisa leluasa memainkan alur. Dia memfokuskan cerita pada tokoh Ghani. Tokoh ini ternyata teman karib almarhum (Magbul). Keduanya bersahabat sejak kecil hingga sama-sama tua. Keduanya juga memiliki satu obsesi yang sama: mati cara Tuhan. Bukan takut mati, tapi kita carilah cara mati yang bagus menurut Tuhan. Begitu ajakan tokoh Magbul kepada tokoh Ghani.

Setelah melalui serangkaian diskusi, dan juga debat, keduanya bersepakat. Cara mati yang paling disukai Tuhan adalah saat salat dalam posisi sujud. Tanpa diduga, Magbul mati duluan. Dahsyatnya, dia mati sesuai dengan obsesinya. Mati saat salat subuh dalam posisi sujud. Tak ayal, Ghani pun iri dibuatnya. Dia juga ingin mati dalam situasi seperti teman karibnya.

Setelah menyibak masa kenangan dua tokoh tersebut, Aan mengubah setting waktu pada kekinian. Peristiwa yang menggambarkan kegalauan tokoh Ghani. Usaha Ghani agar bisa mati dalam situasi seperti tokoh Magbul.

Di tengah kegalauan, tokoh Ghani teringat bahwa dia telah tua dan disarankan oleh dokter untuk menghindari makanan-makanan tertentu. Salah satunya adalah kepiting. Teringat saran dokter itu, Ghani menemukan ide. Dia memakan pantangan agar bisa cepat mati. Dan menjelang mati, dia akan menghadiri upacara salat jenazah dari almarhum Magbul. “Jadi tetap bisa mati sujud di masjid. Nanti ketika salat jenazah, aku akan menyusulmu sahabat,” kata Ghani sambil mengaduk pelan adonan kepiting di panci dan melihat ke atas membayangkan wajah Magbul di hadapannya.

Benar saja, usai memakan kepiting dan cumi dalam porsi besar, Ghani bergegas ke masjid. Dia langsung mengambil posisi salat di shaft terdepan. Allahu Akbar. Saat salat, Ghani merasakan sakit yang luar biasa. Namun karena didorong oleh obsesi untuk mati sujud saat salat, dia berusaha untuk bertahan. Di tengah menahan sakit itulah, Ghani baru ingat, salat jenazah tanpa disertai dengan sujud. Jamaah hanya berdiri dari awal hingga akhir rakaat. Kegalauan Ghani semakin memuncak. Tak kuasa menahan sakit, salat belum usai, tubuh Ghani ambruk.

Orang-orang kembali gempar. Ghani dibawa ke rumah sakit dengan ditemani istri dan warga sekitar. Di dalam mobil, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Ghani siuman. Melihat wajah istrinya, dengan masih setengah sadar, Ghani merasa telah berada di surga. Cerita ini pun ditutup oleh Aan dengan pernyataan Ghani: “Ya Allah! Benar kata Magbul. Bidadari di surga memang cantik.

Begitulah, rangkaian alur dari cerpen Aan terdiri dari konflik di awal dan konflik di akhir. Bermula dari kematian tokoh Magbul dan serasa matinya tokoh Ghani. Kesemuanya memberi ilustrasi tentang tema maut, yakni usaha untuk mati sahid.

Pilihan tema mati sahid ini tampaknya juga sesuai dengan karakter koran. Mati sahid sangat dekat dengan gerakan terorisme. Beberapa kali, teroris menjalankan aksinya di Indonesia. Ketika mereka beraksi, hampir selalu, koran menjadikannya sebagai berita utama. Kebijakan redaksional koran itu didorong oleh kenyataan bahwa aksi terorisme selalu menyita perhatian publik, tak hanya nasional tetapi juga internasional.

Selain bersinggungan dengan aksi terorisme, tema mati sahid juga kerap diperdebatkan kaum ulama dan pengamat politik. Sebuah perdebatan berkepanjangan, tak berkesudahan, dan selalu aktual. Melalui cerpen, Aan Haryono juga memberi penafsiran tersendiri atas tema mati sahid. Di situ jelas termaktub, mati sahid merupakan usaha menemukan cara mati yang bagus menurut Tuhan. Pilihan yang dikemukakan Aan cukup simpel, yakni mati saat salat dan dalam kondisi sujud.

Perihal bahasa, Aan bersifat praktis. Gaya bahasa pilihannya tidak berlarat-larat atau sok puitis. Bahasa cukup lugas atau langsung menuju pada pokok informasi atau peristiwa yang hendak disampaikan. Pemilihan ini cukup tepat. Sebab, pembaca koran tidak terlalu punya waktu panjang hanya untuk menguraikan metafor atau tanda-tanda yang kerap menyelimuti bahasa nyastra.

Dari segi struktur, inilah sayangnya, Aan seperti mewarisi penyakit cerpen koran. Segalanya kurang tergarap secara maksimal. Misalnya penokohan, tidak tercipta gambaran yang menggelitik-tragik-komedial. Penokohan muncul dalam obsesinya untuk mati. Tokoh seperti halnya manusia utuh dan kompleks tidak terwujud. Begitu pula dengan eksplorasi setting. Sifatnya hanya sambil lalu. Tetapi memang seperti inilah karakter cerpen koran. Segalanya bersifat sekilas, semacam ledakan kecil, keterkejutan sesaat, atau sebatas impuls. Tetapi, yang terpenting adalah, impuls tersebut mampu menyeruak atau merangsang daya pikir dan imajinasi pembaca.

Terlebih, walau sama-sama genre prosa, tidak adil sebenarnya membandingkan keutuhan stuktur novel atau novelet dengan struktur cerpen koran. Novel memiliki jumlah halaman yang banyak. Pengarang novel punya ruang luas untuk mengembangkan struktur. Entah tema, setting, alur, maupun penokohan. Sebaliknya, ruang cerpen koran sangat sempit. Pengarang harus berjibaku memanfaatkan ruang sempit tersebut sehingga mencukupi untuk menyajikan keutuhan cerita.

Keduanya semestinya didekati dengan cara berbeda. Perlu pula aparat kritik yang berbeda. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar