RINGKASAN BERITA:
- Tim MCH Kemenhaj RI bersama ratusan jemaah lintas negara mendaki Jabal Nur menuju Gua Hira pada Kamis dini hari.
- Gua Hira merupakan lokasi sakral tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, Surat Al-Alaq ayat 1-5.
- Jemaah asal Nganjuk, Ali Mukti, berhasil mencapai puncak dalam waktu satu jam dengan modal niat dan selawat.
- Situs bersejarah ini sekaligus merekam jejak fisik pengorbanan Siti Khadijah yang mendaki gunung demi mengantar logistik.
Makkah (beritajatim.com) — Fajar belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur kota suci saat langkah demi langkah mulai mantap menapaki undakan anak tangga batu menuju puncak Jabal Nur pada Kamis (18/6/2026) dini hari.
Di bawah belaian udara malam Makkah yang masih sejuk, sekelompok jemaah melakukan pendakian spiritual menuju salah satu titik paling krusial dalam sejarah peradaban Islam, yakni Gua Hira, tempat di mana Baginda Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu ilahi.
Bagi miliaran umat muslim di seluruh penjuru dunia, celah sempit di lereng gunung batu ini merupakan titik episentrum lahirnya risalah kenabian. Di lokasi bermuatan spiritual tinggi inilah, tepat pada 17 Ramadan sekitar tahun 610 Masehi, Nabi Muhammad SAW yang kala itu genap menginjak usia 40 tahun menerima lima ayat pertama Surat Al-Alaq melalui perantara Malaikat Jibril.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI menapaki langsung ke dalam Gua Hira, menyaksikan antusiasme peziarah domestik maupun internasional untuk mengunjungi situs-situs sejarah (tarikh) Islam tetap membumbung tinggi di sisa waktu operasional haji tahun ini.
Jabal Nur sendiri menjulang gagah setinggi 634 meter di atas permukaan pemukiman kota Makkah, atau berjarak sekitar empat kilometer di sebelah timur Masjidil Haram. Dari titik puncaknya, lanskap kota suci Makkah terpapar dramatis, dengan menara Tower Zamzam yang berdiri kokoh mencuat di balik kepungan bukit-bukit batu khas Tanah Haram.
Agenda pendakian pada Kamis dini hari tersebut diikuti oleh 17 personel tim Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi. Medan tanjakan yang didominasi batu cadas dilalui bersama dengan ratusan peziarah dari berbagai belahan dunia, mulai dari Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, Afrika, hingga Turki.
Secara umum, durasi pendakian normal memakan waktu sekitar satu setengah jam. Faktor ketahanan fisik dan pasokan logistik air minum menjadi kunci utama agar tidak mengalami dehidrasi di tengah trek yang menguras energi.
“Ayo sebentar lagi kita sampai Gua Hira,” ujar ketua rombongan MCH, Abdul Kholik, yang terus membakar semangat seluruh anggota tim di sela-sela pendakian.
Berbeda dengan era kenabian, akses jalur pendakian saat ini sudah dikelola dengan lebih modern. Pemerintah setempat telah menyusun anak tangga permanen secara rapi serta menyediakan beberapa pos selter untuk beristirahat. Di sepanjang jalur, para pedagang lokal juga tampak menjajakan air mineral, kudapan, hingga suvenir khas kelap-kelip Makkah.
Sensasi spiritual yang mendalam turut dirasakan oleh Ali Mukti, seorang jemaah haji reguler asal Nganjuk, Jawa Timur. Memulai pendakian sejak pukul 01.00 Waktu Arab Saudi (WAS), Ali bersama rombongannya sukses menaklukkan puncak Jabal Nur hanya dalam tempo satu jam.
“Innamal a’malu binniyat dan selawat Shollu ala Sayyidina Muhammad,” tutur Ali Mukti mantap, merefleksikan resep ketahanannya selama mendaki.
Ali menuturkan, berkat niat yang kuat dan memperbanyak selawat, dirinya bersama rombongan akhirnya berhasil masuk ke Gua Hira. Rasa syukur pun tak dapat disembunyikan ketika berhasil mencapai tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW tersebut. Setibanya di sana, mereka memanfaatkan momentum sakral itu untuk mendirikan salat sunnah dan melangitkan doa-doa terbaik.
Saksi Bisu Ketulusan dan Titik Balik Kesetiaan Khadijah
Di samping aroma religiusitas dari lantunan zikir jemaah, suasana haru kerap pecah di sekitar Gua Hira. Banyak jemaah tak kuasa menahan air mata kala membayangkan beratnya beban psikologis dan fisik yang dipikul Rasulullah SAW saat tubuhnya menggigil menerima perintah “Iqra” (bacalah).
Lebih dari itu, bebatuan Jabal Nur sejatinya juga menjadi monumen abadi bagi ketulusan kasih seorang perempuan agung, Ummul Mukminin Siti Khadijah Al-Kubra.
Jauh sebelum momentum turunnya wahyu, Rasulullah SAW sudah rutin mengasingkan diri (tahannuts) di Gua Hira guna merenungkan dekadensi moral moral masyarakat Quraisy.
Sepanjang fase isolasi mandiri yang memakan waktu berhari-hari tersebut, Siti Khadijah dengan penuh kerelaan bolak-balik mendaki jalur terjal Jabal Nur yang kala itu masih berupa tebing batu liar demi mengantarkan bekal makanan.
Khadijah tidak hanya bertaruh tenaga, melainkan juga nyawa demi melindungi keselamatan suaminya dari intaian kaum kafir Quraisy yang memusuhi dakwah Islam.
Napak tilas ini pada akhirnya melempar memori jemaah pada sebuah kesimpulan besar, bahwa di balik keteguhan iman dan keberhasilan syiar Islam, ada sosok istri, sahabat, sekaligus penyokong finansial dan emosional utama yang setia berdiri kokoh mendampingi Rasulullah SAW di masa-masa paling sulit.
Perjalanan ke puncak Jabal Nur ini bukan sekadar kunjungan wisata religi biasa, melainkan media refleksi batin untuk merawat nilai cinta, pengorbanan, dan keteguhan iman sepanjang hayat. Wallahu’alam. [ian/MCH]






