Iklan Banner Sukun
Sorotan

Quadruple dan Kegelisahan Pep Guardiola

Pep Guardiola [foto: skysports.com]

Mungkinkan Liverpool Meraih Quadruple? Quadruple adalah sebutan untuk raihan empat gelar dalam sepak bola, dan dalam konteks Liga Inggris itu berarti juara Liga Primer, juara Piala FA, juara Piala Liga, dan juara Piala Champions Eropa. Liverpool sudah merebut gelar Piala FA dan Piala Liga, setelah di final masing-masing mengalahkan Chelsea melalui adu penalti (6-5 dan 11-10).

Final Piala Champions Eropa masih akan digelar 28 Mei 2022 di Paris. Liverpool akan menghadapi Real Madrid, juara Piala Eropa 13 kali.

Target paling dekat yang harus dimenangi adalah gelar Liga Inggris. Dalam pertandingan terakhir (pekan ke-38) di Stadion Anfield, Minggu (22/5/2022) malam, Liverpool akan menghadapi Wolverhampton Wanderers. Sementara rival terdekat mereka, sang pemimpin klasemen sementara Manchester City akan memainkan laga kandang di Stadion Etihad menghadapi Aston Villa.

Saat ini, Liverpool mengantongi 89 angka dan Manchester City 90 angka. Liverpool bisa menjadi juara, jika memenangi pertandingan dan City kalah atau menuai hasil imbang dengan Villa. Hasil di luar tiga poin melawan Wolves otomatis menghilangkan peluang untuk juara.

Dalam sejarah, Liverpool dan Manchester City sama-sama pernah meraih treble dalam semusim, yakni raihan tiga gelar. Liverpool melakukannya pada musim 1983-84 di bawah asuhan pelatih Joe Fagan dengan mengumpulkan gelar juara Liga Inggris, Piala Liga, dan Piala Champions Eropa. Musim 2000-01, Liverpool kembali meraih gelar treble di bawah asuhan Gerard Houllier, dengan mengoleksi gelar Piala UEFA, Piala FA, dan Piala Liga.

Sementara itu, Manchester City melakukannya pada 2018-19, dengan meraih gelar Liga Primer, Piala FA, dan Piala Liga. Bahkan manajemen klub itu mengklaim diri telah meraih empat gelar alias Fourmidable (pelintiran dari formidable atau hebat), dengan memasukkan gelar Community Shield yang selama ini tak diperhitungkan sebagai gelar mayor. Community Shield adalah pertandingan pembuka musim yang mempertemukan juara liga dan juara Piala FA musim sebelumnya.

Media massa semakin sering mengompori harapan terjadinya quadruple yang tak pernah memiliki preseden dalam sejarah sepak bola Inggris. Apalagi bakal ada cerita dramatis yang disukai media massa jika Liverpool benar-benar mewujudkannya.

Pertama, Diogo Jota melakukannya dengan mengalahkan mantan klubnya sendiri. Sebelum bermain di Liverpool, Jota adalah salah satu pemain depan andalan Wolves. Wolves akan mendapat bonus sesuai dengan kesepakatan transfer dulu, jika Jota bisa membawa Liverpool juara Liga Inggris.

Kedua, Aston Villa yang saat ini dilatih legenda Liverpool Steven Gerrard dan dihuni dua mantan pemain Liverpool, Phillipe Coutinho dam Danny Ings, membantu Liverpool menjadi juara dengan mengalahkan City di Etihad. Kisah paling populer jika ini terjadi adalah: Gerrard akhirnya membayar lunas kegagalannya membawa Liverpool menjadi juara Liga Inggris musim 2013-14 karena terpeleset, saat melawan Chelsea di Anfield. Saat itu Liverpool kalah 0-2, dan gelar liga terbang ke City.

Musim 2019-20, Chelsea sudah membayar lunas utangnya, dengan ‘membantu’ Liverpool dengan mengalahkan Manchester City 2-1 di Stamford Bridge. Gara-gara kemenangan Chelsea, Liverpool dipastikan menjuarai Liga Primer dengan masih menyisakan tujuh pertandingan yang akan dimainkan.

Situasi musim ini mengulangi situasi musim 2018-19. Saat itu, City sudah mengantongi dua gelar, yakni Piala Liga dan Piala FA. Gelar juara Liga Primer harus diperebutkan hingga pekan ke-38. Liverpool saat itu juga menghadapi Wolverhampton Wanderers di Anfield dan City bertandang ke markas Brighton Hove and Albion.

Posisi City saat itu juga berada di puncak klasemen sementara terpaut satu poin dengan Liverpool yang berada di posisi kedua. Dua klub itu harus menang. Bedanya, beban pelatih City Pep Guardiola saat itu lebih ringan daripada pelatih Liverpool Jurgen Klopp. City sudah dipastikan tak akan mengakhiri musim dengan tangan kosong, kendati gagal menjuarai liga. Sementara Klopp masih harus berjuang di final Piala Champions Eropa untuk meraih trofi jika gagal menjuarai liga. Dan perjuangan di final Piala Eropa ini dibayang-bayangi kegagalan pada final musim sebelumnya.

Kondisi saat ini berbalik. Beban berat ada pada Pep Guardiola. Liga Primer adalah satu-satunya harapannya untuk tidak mengakhiri musim dengan tangan kosong. Gagal di semifinal Piala Champions Eropa saja sudah cukup menjadikannya bahan tertawaan, mengingat saat itu City yang sudah unggul dengan agregat dua gol atas Real Madrid hingga menit 90, justru kebobolan dan akhirnya kalah.

Kali ini City sudah unggul poin pula atas Liverpool. Di atas kertas, Aston Villa mudah diempaskan. Villa adalah penghuni peringkat 14 klasemen sementara dan terpaut 45 poin lebih sedikit dengan City.

Saat pertandingan pertama di Villa Park saja, 2 Desember 2021, City bisa menang 2-1. Tentunya bertanding di Etihad menjadi keuntungan tersendiri. Apalagi, kondisi City lebih bugar daripada Villa yang dua hari sebelumnya masih harus menghadapi Burnley.

Semua orang awam sepak bola sekalipun, asalkan menggunakan akal sehatnya, tentu akan lebih mengunggulkan City daripada Liverpool. Sama seperti musim 2018-19. Apalagi jauh-jauh hari Jurgen Klopp bilang quadruple tak mungkin terwujud. Mustahil, terutama jika berhadapan dengan kompetitor sekuat City.

Jadi saya tak bisa membayangkan betapa terlukanya Guardiola, jika gagal menjuarai Liga Inggris musim ini di tengah semua perhitungan di atas kertas yang menguntungkannya. Dan kemungkinan itu walau pun di atas kertas sangat tipis, bukannya tak ada. Pep Guardiola tahu itu.

Terjungkal dalam hitungan menit pada saat posisi sedang unggul jelang akhir laga yang dialaminya pada semifinal Piala Champions, memberinya pelajaran: mentalitas pemain City tidak sebaja yang dibayangkan. Dua gol Jared Bowen dan gagalnya tendangan penalti Riyad Mahrez saat melawan West Ham menunjukkan jika City benar-benar dalam posisi tertekan.

Guardiola boleh saja membantahnya. Namun pernyataannya yang berkali-kali menyinggung Liverpool dalam sejumlah konferensi pers menjelang dan sesudah pertandingan, menunjukkan bagaimana dia berusaha menganggu konsentrasi Klopp. Guardiola melakukan apa yang bertahun-tahun dilakukan Jose Mourinho: mind games untuk mengalihkan beban mental kepada lawan.

Masalahnya, Guardiola sedang berhadapan dengan Klopp yang sejak awal sudah memposisikan diri tidak sedang berambisi membuat sejarah quadruple. Mantra Klopp selalu sama: nikmati pertandingan satu demi satu, hasil dipikirkan belakangan. Klopp juga bukan tipe pelatih ‘over thinking’ yang mudah larut dalam kegagalan. Dia dibentuk oleh kegagalan, dan karenanya dari kegagalan dia belajar.

Menarik untuk menunggu apakah Man City akan kembali menjadi juara Liga Inggris atau Guardiola patah saat menghadapi tekanan besar? Mungkinkan quadruple akan mendarat di Anfield? [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar