Sorotan

Kisah Sutan Sjahrir (1)

Bertemu Hatta, Disingkirkan Komunis, Dirikan PNI-Pendidikan

Sutan Syahrir dan Soekarno

Jember (beritajatim.com) – Sjahrir lahir di Padang Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat, pada 5 Maret 1909. Ia bagian dari sebuah keluarga terpelajar dan terpandang. Ayahnya punya gelar Maharaja Sutan, seorang jaksa kepala pengadilan negeri (landraad), bernama Mohammad Rasad. Ibunya keturunan raja-raja Swapraja, Putri Siti Rabiah.

Sjahrir sejak kecil dikenalkan dengan pendidikan Belanda. Berkat ayahnya, ia bisa masuk sekolah dasar berbahasa Belanda, Europeesche Lagere School (ELS). Ia melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama berbahasa Belanda, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), yang kemudian dilanjutkan ke AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Di sana, ia mengambil jurusan budaya Barat Klasik.

Belanda menjadi tempat pengembaraan intelektual berikutnya. Ia kuliah di Fakultas Hukum Gemeente Universiteit van Amsterdam, dan mendaftar pula di Universiteit Leiden. Di Negeri Kincir Angin ini, Sjahrir mulai mendalami Marxisme.

Ia berkawan dengan Salomon Tas, pentolan Klub Mahasiswa Sosial-Demokrat. Istri Tas, Maria Duchateau, kelak menjadi istri Sjahrir. Sjahrir bergabung dengan Perhimpunan Mahasiswa Sosial-Demokrat yang berafiliasi dengan Partai Buruh Sosial-Demokrat. Ia bekerja di Federasi Buruh Transportasi Internasional.

Di Belanda, Sjahrir bertemu Mohammad Hatta. Tahun 1908. Hatta menjadi ketua Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di perantauan. Hatta adalah guru Sjahrir. Dalam usia 21 tahun, Sjahrir terpilih menjadi sekretaris organisasi tersebut. “Sjahrir hormat sekali kepada Hatta,” kata Rosihan. Begitu pula sebaliknya.

Duet Hatta-Sjahrir membuat PI diperhitungkan. Namun mereka tidak disukai oleh orang-orang komunis di PI, dan disingkirkan dari organisasi itu. Inilah awal mula gesekan antara Sjahrir dengan orang-orang komunis.

Sjahrir dan orang komunis memang sama-sama tidak cocok satu dengan yang lain. Sjahrir tidak menerima konsep materialisme-historis secara dogmatis. Ini berbeda dengan kaum komunis, yang menganggap Sjahrir sebagai bagian dari kelompok sosialis yang berpihak kepada kapitalisme. Kelak Sjahrir banyak tidak sejalan dengan kaum komunis. Didepak dari PI, Sjahrir kembali ke tanah air dan mengembangkan jalan politiknya sendiri.

Sepanjang hayat Sjahrir ikut serta membangun dan mengembangkan organisasi dan partai politik yang berjuang untuk kemerdekaan. Dari semua organisasi dan partai politik tersebut, ada benang merah yang jelas: partai dan organisasi tersebut berbasis kader, bukan massa. Tahun 1931-1932, ia ikut mendirikan dan menjadi ketua umum Pendidikan Nasional Indonesia atau lebih dikenal sebagai PNI-Pendidikan. Partai ini adalah partai kader dengan jumlah anggota seribu orang.

PNI-Pendidikan menekankan perlunya peningkatan kecerdasan dan kesadaran politik kepada para anggotanya. J.D. Legge menyebut tugas PNI-Pendidikan kurang spektakuler: mendidik anggota pergerakan dan mempersiapkan diri untuk perjuangan jangka panjang menghadapi Belanda yang jauh lebih kuat. PNI-Pendidikan meyakini, kaum intelektual bertugas membangkitkan kekuatan rakyat, menafsirkan, dan memberikan landasan teoritis. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar