Iklan Banner Sukun
Sorotan

Bagaimana Sebuah Perusahaan Minyak dan 10 Orang Desa Merawat Bumi

Sahril sedang menanam pohon bakau di Labuhan. [foto: istimewa]

Mereka membabat bakau di sepanjang pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, untuk membangun tambak-tambak udang windu, pada dekade 1980-1990. Udang windu bisnis yang menggiurkan. Tak hanya di Madura, tapi hampir di seluruh pantai di Indonesia.

Lalu datanglah wabah white spot. Bisnis tambak udang merosot. Tambak-tambak itu ditinggalkan pemiliknya, menyisakan genangan-genangan air dan hamparan lumpur, menyela gersang di pantai. Orang beralih ke bisnis lain.

Hidup kembali berjalan, namun pantai di Labuhan tak pernah kembali seperti semula, seperti sebelum tambak-tambak itu dibangun. Bakau memang tumbuh liar, namun tidak di semua tempat. Pantai mengalami abrasi, karena kehilangan dinding alamiah yang selama ini menahan gerusan air.

Tak ada yang punya tekad cukup kuat untuk menumbuhkan kembali bakau di sepanjang pantai, sampai kemudian Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE-WMO) datang dan mengebor sumur pertama di anjungan PHE- 40 yang berjarak 70 mil di lepas pantai Bangkalan pada 2012.

Tak hanya menyedot minyak, PHE WMO melakukan pemetaan sosial dan survei lapangan untuk mengetahui potensi di Labuhan. Opsi terbaik adalah memulihkan kondisi pantai dengan kembali menanam bakau di dusun sebelah timur.

Namun ide itu tak cukup memikat hati warga. “Awal mulanya ketika kami masuk ke sana, mereka bilang: ‘sudah pak, kasih saja uangnya, nanti kami bagi-bagi’. Kami bilang, tidak bisa. Kami ada pemberdayaan masyarakat. Jadi selain melakukan pembangunan dan program penanaman, kami juga melakukan pemberdayaan, supaya memunculkan nilai nilai tambah ekonomi warga secara keseluruhan,” kata Amarullah yang saat itu menjabat senior officer di Field Gresik.

Pemerintah desa juga meminta PHE-WMO membangun infrastruktur seperti perbaikan jalan dan pembangunan talud di pantai. Amarullah menjelaskan, bakau bisa menahan material abrasi. “Kalau kita bangun talud, lama-lama hancur. Jadi kami beri edukasi kepada warga bahwa ada barrier alami namanya tanaman mangrove,” kata Amarullah.

Persetujuan pemerintah desa membuka jalan bagi Amarullah untuk bertemu dengan Misnawar dan Sahril. Sahril sering membantu pemerintah desa untuk berurusan dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten, sehingga cukup luwes saat berkomunikasi dengan PHE-WMO. Apalagia ia punya visi lingkungan yang sama.

Desember 2014, atas prakarsa PHE-WMO, sepuluh orang warga Desa Labuhan berangkat ke Kabupaten Tuban untuk melihat sendiri bagaimana bakau berhasil dibudidayakan di Tuban Mangrove Center. Mereka dibikin jatuh kagum. Sepulang dari sana, sepuluh orang itu membangun struktur kelembagaan Kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera. Munawar ditunjuk menjadi ketua, dan Sahril menjadi sekretaris.

Sahril tak pernah berpikir membangun sebuah taman bakau untuk destinasi wisata seperti di Tuban. “Saya cuma lakukan untuk perbaikan lingkungan,” katanya.

Tahun 2015, PHE WMO membangun saung kecil dengan ornamen kayu berwarna coklat bersama warga setempat. Saung ini menjadi tempat pertemuan dan diskusi untuk membahas pengembangan bakau seperti di Tuban.

Mereka didampingi Agus Satriyono, Direktur Agrie Conservation Gresik. “Kami mulai menanam cemara laut di bagian pantai yang tak terkena pasang surut air laut, dan melakukan pembibitan cemara dan mangrove di petak bekas tambak,” katanya.

Mulanya, tiga hektare lahan ditanami. “Menanam tidak susah. Yang susah menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Kami harus mengedukasi bahwa kegiatan kami memiliki dampak jangka panjang. Dengan menjaga ekosistem, maka tangkapan ikan juga terjaga. Dengan adanya vegetasi di pantai, angin dari laut terhalang dan akhirnya tembok rumah tidak keropos,” kata Agus.

Sahril memahami betul pola pikir warga Labuhan. “Namanya orang desa, kalau mau diajak kerja pasti tanya berapa upahnya. Jadi kami ambil orang-orang yang mungkin sudah pilihan dari Allah, sudah ada keikhlasan di hatinya. Kalau tidak ikhlas mungkin tidak seperti ini. Yang kita pikirkan jangka panjangnya,” katanya.

Agus sempat menemukan adanya tanaman bakau yang dirusak entah oleh siapa. Namun itu dianggap insiden biasa, karena secara umum kendati enggan, warga sebenarnya tak menunjukkan penentangan terbuka terhadap penanaman bakau dan cemara laut.

Burung-burung mulai berdatangan setelah bakau dan cemara laut tertanam. Sebagian burung bermigrasi dari Eropa. “Pada 2016, kami membuat jembatan kayu dan membangun aula mangrove,” kata Amarullah. Menara pemantau burung setinggi sepuluh meter tegak berdiri.

Orang-orang luar mulai berdatangan untuk melakukan pengamatan burung, penelitian, atau hanya sekadar pakansi. Perekonomian desa mulai bergerak. Mereka yang datang dan menginap diharuskan berkirim surat ke kepala desa agar tercatat secara administrasi. Makanan dan kebutuhan selama di desa disediakan oleh warga setempat.

“Masyarakat yang tadinya tidak peduli akhirnya mendaftar untuk ikut. Ada 80 keluarga yang menerima manfaat langsung. Mereka berdagang. Bahkan kalau sedang ramai, hampir 20 orang bisa bekerja jadi tukang parkir,” kata Sahril.

Tak hanya menanam, warga juga berlatih mengolah bakau menjadi sajian kuliner seperti urap-urap. “Itu jadi ciri khas kuliner di desa kami,” kata Sahril.

Sukses di sisi timur desa, PHE WMO dan warga mengembangkan konservasi di sisi barat. Kali ini transplantasi terumbu karang pada 2018, bekerja sama dengan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. Opsi ini dipilih karena hamparan karang di perairan Labuhan mengalami kerusakan akibat penggunaan alat tangkap ikan tak ramah lingkungan oleh nelayan.

“Kami harus memikirkan keseimbangan. Kesuksesan kami di wilayah timur membuat lebih mudah melakukan pendekatan kepada warga di wilayah barat. Ini menarik karena mengombinasikan unsur biologi kelautan dan masyarakat,” kata Amarullah.

Ada dua lokasi transplantasi, takni di Pulau Ajaib pada kedalaman lima meter dari permukaan air laut dan satu lokasi lagi menjadi taman wisata laut terumbu karang. Sebanyak 877 fragmen karang sudah tertanam. “Terumbu karang menjadi rumah ikan. Sekarang nelayan mencari cumi di lokasi itu,” kata Sahril.

Kamis, 4 November 2021, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Taman Pendidikan Mangrove di Labuhan dan menanam bakau bersama ratusan pelajar. “Nandur Mangrove ini program yang kita akan lakukan massif di berbagai titik yang sudah terkonfirmasi. Saya ingin mengajak kerelawanan kita semua, kebersamaan kita semua, kegotongroyongan kita semua, daya dukung alam dan daya dukung lingkungan membutuhkan kolaborasi kita semua,” katanya.

Konservasi bakau di Indonesia menjadi perhatian para pemimpin dunia dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim di Skotlandia. Dari 16,53 juta hektare hutan bakau di dunia, 21 persen berada di wilayah Indonesia.

Presiden Joko Widodo berjanji merestorasi hutan bakau hingga 600 ribu hektare dalam tiga tahun ke depan. “Ini akan menjadi konservasi hutan mangrove terbesar di dunia,” katanya.

Keberhasilan PHE WMO merawat bumi di Labuhan bersama warga desa diganjar Proper Emas, sebuah penghargaan tertinggi dalam pengelolaan lingkungan yang bersih dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

Ikhtiar yang dilakukan PHE WMO bersama warga memenuhi semua persyaratan inovasi sosial, mulai dari kebaruan proses, produk, dan orisinalitas; kompetensi, menjawab kebutuhan, meningkatkan kapasitas sosial, efektif menyelesaikan permasalahan sosial, hingga berkelanjutran dan bisa direplikasi.

Namun tentu saja, seperti kata Sudharto P. Hadi PHD, Ketua Dewan Pertimbangan Proper, penghargaan proper bukan tujuan. “Ini wahana untuk mewujudkan keberlanjutan usaha kita, bagaimana menyinergikan triple bottom line. Bukan hanya mengejar profit, tapi juga peduli terhadap masyarakat sekitar, dan planet atau lingkungan di mana kita melakukan kegiatan,” katanya.

Awalnya hanya rerimbunan bakau. Namun dari sana kita berupaya menuju nol. “Ada dua angka yang Anda perlu ketahui mengenai perubahan iklim. Pertama, 51 miliar. Kedua adalah nol. Lima puluh satu miliar adalah jumlah ton gas rumah kaca yang dunia biasa tambahkan ke atmosfer tiap tahun…Nol adalah yang kita harus tuju. Untuk menyetop pemanasan dan menghindari efek terburuk perubahan iklim… manusia perlu berhenti menambah gas rumah kaca di atmosfer,” kata Bill Gates, dalam buku How to Avoid Climate Disaster.

Mungkin Bill Gates akan bahagia di Labuhan. Siapa tahu. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar