Makassar (beritajatim.com) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam mendukung kegiatan eksplorasi dan operasional Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Hal ini disampaikan Kepala Divisi Komunikasi SKK Migas, Hudi D. Suryodipuro, dalam Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Makassar, Senin (23/6/2025).
“Di tengah perubahan ini, peran media menjadi sangat strategis, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat,” ujar Hudi.
Ia menyebutkan, industri migas Indonesia saat ini menghadapi dinamika seiring meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tekanan global, namun tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pembangunan nasional. SKK Migas mencatat, penerimaan negara dari sektor ini pada 2025 mencapai Rp5,045 triliun, didorong oleh peningkatan produksi dan penemuan cadangan baru.
“Potensi gas masih mendominasi, terutama dari penemuan baru di wilayah Andaman. Proyek strategis nasional seperti Jangkrik, Train 3 Tangguh, dan Jambaran-Tiung Biru (JTB) juga terus dipercepat, dan kini sudah mulai onstream,” tambah Hudi.
Berdasarkan catatan SKK Migas, cadangan minyak nasional saat ini mencapai 4,31 billion barrel oil (BBO), dan gas sebesar 51,98 triliun kaki kubik (TCF). Potensi tersebut tersebar di 156 Wilayah Kerja dan 103 wilayah eksplorasi.
Adapun capaian investasi hulu migas pada 2023 tercatat sebesar USD13,7 miliar atau sekitar Rp206 triliun, meningkat 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, SKK Migas memproyeksikan adanya temuan besar dari sumur eksplorasi, yang disebut-sebut sebagai temuan terbesar di Asia Tenggara.
Hudi menekankan bahwa di tengah tantangan global, mulai dari konflik geopolitik Ukraina-Rusia, perubahan iklim, hingga pergeseran tren investasi menuju energi bersih, media memainkan peran penting untuk mengedukasi masyarakat soal transisi energi yang adil dan berkelanjutan.
“Industri migas tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia menopang berbagai sektor ekonomi. Karena itu, komunikasi yang baik dengan media sangat vital untuk menyampaikan informasi yang akurat dan konstruktif,” tegasnya.
Hudi juga mengapresiasi komunikasi yang telah terjalin selama ini antara Pertamina Subholding Upstream Regional 4 dan media lokal. Ia menilai kolaborasi tersebut penting untuk membangun pemahaman publik mengenai peran migas dalam pembangunan berkelanjutan.
Indonesia saat ini berada di peringkat ke-16 dunia dalam Produk Domestik Bruto (PDB), dan diproyeksikan naik ke posisi lima besar pada 2030. Hal ini akan berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri.
“Kita belum sepenuhnya lepas dari energi fosil. Masih banyak kesempatan bagi industri migas untuk memenuhi kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Manager Corporate Relations (ComRel) CID PEPC, Rahmat Drajat, memimpin kegiatan bertema “Acceleration Energy for Business Sustainable” yang dihadiri oleh 104 perwakilan media dari berbagai wilayah. Ia menegaskan pentingnya peran media dalam mempercepat transformasi energi berkelanjutan.
“Tema utama bisnis migas kali ini adalah business sustainability. Bagaimana peran media mengedukasi masyarakat, khususnya dari Pertamina. Kegiatan ini juga sebagai ajang menjalin silaturahmi,” pungkasnya. [dny/beq]






