Malang (beritajatim.com) – Desa Sitiarjo merupakan salah satu desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Desa ini, sesuai catatan pusat statistik, berpenduduk 7.462 jiwa. Desa yang punya 4 Dusun itu, menjadi langganan banjir di musim penghujan. Terutama, ketika intensitas hujan tinggi dibarengi dengan air laut yang pasang.
Sebabnya, sungai Penguluran yang melingkari Desa Sitiarjo ini, bermuara langsung ke Pantai Selatan atau Samudera Indonesia. Jarak Desa Sitiarjo hingga bibir Pantai tersebut, tidak terlampau jauh.
4 Dusun di Desa Sitiarjo yang selalu menjadi langganan banjir yakni Dusun Krajan Tengah, Krajan Kulon, Rowoterate, dan Krajan Wetan. Ketika musim hujan tiba, warga selalu was-was. Apalagi saat hujan turun terus menerus. Warga selalu siaga. Bahkan saat hujan turun malam hari, warga tidak bisa tidur karena takut banjir tiba-tiba datang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”banjir-bandang”]
“Desa Sitiarjo ini memang langganan banjir. Dulu hampir setiap tahun terjadi banjir. Namun lima tahun terakhir tidak pernah banjir, terakhir pada tahun 2017 lalu. Tapi ini yang terparah sejak tahun 2013 lalu,” ungkap Yusak Krismanto, Ketua PMI Sumbermanjing Wetan, Senin (17/10/2022) sore.
Menurut Yusak, banjir tahun ini cukup besar. Khusus di Dusun Rowoterate, ketinggian air bisa mencapai 2,5 hingga 3 meter. “Ada 533 KK di dusun rowoterate. Mereka ini sudah terbiasa harus kemana jika banjir terjadi,” ucap Yusak yang juga Tim Siaga Bencana PMI itu.
Yusak menuturkan, untuk akses menuju Dusun Rowoterate sampai sore ini masih belum bisa dilewati. “Akses menuju Rowoterate ini masih tergenang air. Bisa menuju dusun itu harus lewat sungai, namun kondisi air cukup besar dan itu membahayakan petugas evakuasi,” ujarnya.
Yusak menceritakan, rata rata warga Dusun Rowoterate bertahan di rumah karena sudah menyiapkan para para. Para para adalah Semacam loteng atau rumah yang ditingkat dibagian langit langit rumah. Para para inilah, tempat warga menyimpan barang berharga dan menyelamatkan diri ketika banjir membesar. “Kalau sudah surut warga biasanya turun lagi, bersih bersih rumahnya. Kalau air meninggi, naik lagi ke para para. Dan itu warga sudah terbiasa seperti itu bila musim penghujan dan banjir tiba,” beber Yusak.
Hal sama juga dipaparkan Adi Susilo, seorang Ketua RT di Krajan Tengah, Desa Sitiarjo. Susilo bilang, rumahnya sempat terendam banjir hingga setinggi dua meter. Setelah lima tahun tidak pernah banjir, tahun 2022 ini banjir kembali melanda. Pertama pada Sabtu (15/10/22) lalu. Banjir masih tidak begitu parah.
Kemudian banjir susulan terjadi lagi pada Senin (17/10/22) pagi. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Empat Dusun di Desa Sitiarjo semuanya terendam air. Paling parah adalah Dusun Krajan Tengah dan Rowotrate.
Disinggung soal penyebab banjir kali ini? Adi Susilo mengatakan selain karena intensitas hujan yang tinggi, juga banyaknya pohon di lereng bukit yang habis ditebang. “Banjir kembali terjadi lagi ini karena banyak pohon yang sudah ditebang. Sehingga resapan air berkurang,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Malang Fuad Fauzi menuturkan, sesuai Renkon Banjir Sitiarjo, pihaknya memprediksi data terburuk ada 840 KK di Desa Sitiarjo yang terdampak banjir. Jumlah itu melihat dari jumlah rumah yang terendam pada dua hari lalu sebanyak 533 KK. “Renkon ini sudah kita antisipasi, jadi kemungkinan jika melihat kondisi hujan yang terus tinggi sore ini, ada 840 KK bisa terdampak. Itu dara tertinggi sudah,” urainya.
Fuad juga menjelaskan, bencana banjir dan tanah longsor saat ini juga terjadi di 5 Kecamatan se Kabupaten Malang. Yakni Tirtoyudo, Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Gedangan dan Donomulyo. (yog/kun)






