Kota Madiun (beritajatim.com) – Kota Madiun lekat dengan julukan Kota Pendekar Silat. Sayangnya, julukan itu tercemar stigma kekerasan imbas kerusuhan yang dilakukan sejumlah oknum perguruan silat.
Tak jarang, kerusuhan itu menimbulkan korban luka bahkan nyawa. Itu semakin menguatkan citra buruk perguruan silat yang melekat di Madiun.
Meski begitu, silat di Madiun masih punya harapan. Banyak anak muda yang semangat belajar silat bukan untuk kekerasan melainkan demi menorehkan prestasi dan membuat nama Kota Madiun kembali mewangi di dalam maupun luar negeri.
Seperti yang ditorehkan Rahma Ayu Zabina (15), remaja asal Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur. Gadis yang saat ini duduk di bangku kelas IX SMP N 6 Kota Madiun memilih pencak silat sebagai jalurnya untuk menorehkan prestasi.
Tepatnya saat duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar di SDN Mojorejo 1, Rahma bergabung dengan salah satu perguruan silat. Ketertarikannya pada seni silat tumbuh atas dorongan sang paman.
Selang setahun setelah bergabung, pelatihnya mengumumkan jika ada kompetisi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Tanpa pikir panjang, Rahma memutuskan untuk ikut kejuaraan itu.
“Waktu itu saya tertarik dan langsung mendaftar untuk ikut. Sejak saat itu saya keterusan ikut kompetisi. Sampai saat duduk di bangku SMP juga ikut terus,” kata sulung dari dua bersaudara itu.
Rahma mengaku termotivasi terjun ke kejuaraan silat saat melihat video pesilat wanita Puspa Arumsari di platform YouTube. Dalam video itu, Puspa menunjukkan performa terbaiknya dalam memeragakan jurus-jurus silat di kejuaraan tingkat dunia di 2016.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Madiun”]
Gerakan Puspa begitu indah. Tampak seperti sedang menari. Tapi sangat berbahaya dan mematikan. Pesilat wanita itu pun memboyong pulang medali emas.
Kepiawaian Puspa ternyata menjadi inspirasi bagi Rahma. Remaja itupun termotivasi dan bersemangat menggeluti silat.
“Saya pun ikut latihan terus. Sebelum jadi warga, saya latihan di Rayon Mojorejo kemudian setelah warga saya latihan di Padepokan Jalan Merak Kelurahan Manguharjo,” kata remaja putri yang juga hobi berenang itu.
Sejak saat itu, Rahma terus mencatatkan prestasi demi prestasi. Sejauh ini, dia sudah menyabet gelar juara dari beberapa kompetisi.

Deretan gelar itu seperti Juara 1 Kategori Fight dalam Pekan Olahraga Kota Madiun saat SMP, Juara 3 kelas 7 Kategori Seni IPSI dalam Olimpiade Seni Siswa Nasional pada saat Kelas VII, Juara 2 Kategori Seni IPSI di MAN 2 Kota Madiun saat dia kelas VIII, dan saat Kelas IX dia dinobatkan sebagai Juara 2 kategori seni baku, Juara 3 Kategori Seni IPSI dalam Universitas Negeri Jember (Unej) Cup.
“Tidak hanya saya, ada temen saya juga, namanya Erlina Dwi Astuti. Saya bercita-cita agar bisa jadi atlet Pencak Silat yang bisa mewakili Indonesia dalam kompetisi Internasional” katanya.
Semangatnya untuk terus berprestasi makin membara berkat dukungan penuh dari orangtuanya, Tri Wulandari (45) dan Gito Surahman (47). Terlebih, bergabungnya Rahma menjadi siswa perguruan silat membuatnya memiliki kegiatan yang positif.
Rahma pun bercerita selama dia ikut perguruan silat, tak ada ajaran untuk melakukan kekerasan. Dia diajari untuk bersaudara dengan siapa saja dan saling membantu sesama saudara. Serta menempa jati diri menjadi orang yang berbudi luhur dan tahu mana benar mana salah.
“Kekerasan itu bukan bagian dari perguruan silat, dan tidak sesuai ajaran perguruan silat. Saya memilih untuk menjadiksn perguruan silat agar bisa meraih prestasi sebagai atlet,” kata Rahma.
Dari Rahma, seluruh pelajar dan para pendekar di manapun berada tak seharusnya mengedepankan kekerasan. Karena silat tak mengajarkan menjadi yang terkuat namun mendorong untuk selalu rendah hati dan halus budi.
Diharapkan, Pemkot Madiun semakin banyak membuat kompetisi yang melombakan para pendekar. Semata agar tumbuh Rahma-Rahma muda yang makin mengharumkan nama Kota Madiun melalui silat. [fiq/beq]







