Mojokerto (beritajatim.com) – Siswa SMP Negeri 2 Kemlagi, Kabupaten Mojokerto berhasil mengembangkan produk makanan dan minuman dari olahan kayu putih. Bahkan tiga produk olahan kayu putih dari siswa SMPN 2 Kemlagi ini menyabet juara II kategori inovasi makanan olahan tingkat Kabupaten Mojokerto.
Tiga produk olahan kayu outih tersebut saat ini diusulkan ke Kemendikbud Ristek untuk masuk PMM implementasi Kurikulum Merdeka. Seluruh siswa dan guru turut dilibatkan dalam pengembangan program inovasi Green School Prolakatih (Produk Olahan Kayu Putih).
Kepala SMPN 2 Kemlagi, Sri Indahyani mengatakan, ada tiga prodak olahan kayu putih yang dihasilkan dalam pengembangan Program Inovasi Green School Prolakatih. “Yaitu Gulati (Gulali kayu putih), Jelikati (Jelly kayu putih) dan minuman Jelukati (Susu lumut dicampur Jelly kayu putih),” ungkapnya, Senin (29/5/2023).
Program Inovasi Green School Prolakatih tersebut muncul dari ide memanfaatkan tanaman kayu putih yang banyak ditanam di wilayah Kemlagi. Awalnya ia memanfaatkan lahan sekolah ratusan pohon kayu putih untuk menghijaukan kawasan sekolah yang baru berdiri pada 26 Januari tahun 2022 lalu.
“Kami mendapat bantuan dari Perhutani BKPH Kemlagi sebanyak 500 bibit kayu putih yang ditanam di area sekolah. Tujuan awalnya agar teduh dan sekolah hijau akhirnya saya mengambil inisiatif mengajak siswa dan guru untuk mengembangkan inovasi makanan olahan kayu putih,” katanya.
Ratusan pohon kayu putih bantuan dari Perhutani BKPH Kemlagi tersebut ditanam di lahan samping kelas dan tempat khusus kebun kayu putih seluas 3 meter x 7 meter. Pihak sekolah berkolaborasi dengan Puskesmas Kemlagi untuk literasi pemanfaatan kayu putih dalam prodak makanan olahan.
“Petugas Puskesmas ahli gizi mendampingi siswa dan guru dalam pengembangan inovasi Prolakatih membuat makanan dan minuman dari kayu putih. Para guru saat kegiatan P5 kewirausahaan mengusulkan untuk membuat makanan olahan yang mudah,” ujarnya.
Yakni dengan memanfaatkan pucuk daun kayu putih untuk diolah menjadi makanan dan minuman,” ujarnya. Prosesnya cukup mudah, lanjut Iin (sapaan akrab, red) pucuk daun kayu putih direbus dan dicampurkan ke dalam bahan makanan maupun minuman.
“Ide awal ya gulali, agar-agar atau Jelly dan minimum dadi olahan kayu putih. Setelah beberapa kali eksperimen selama hampir dua pekan akhirnya berhasil membuat makanan dari olahan kayu putih. Kita ajak siswa dalam P5 kewirausahaan untuk Prolakatih ini harapan kami setelah anak-anak bisa memproduksi sendiri,” urainya.
Baca Juga: Bus Pariwisata Vs Truk di Tol Jomo Mojokerto, Diduga Sopir Kurang Konsentrasi
Selain berharap para siswa bisa memproduksi sendiri, lanjut Iin, para siswa juga mendistribusikan di rumah bersama orang tuanya masing-masing. Iin menyebut jika hasil olahan kayu putih tersebut berpeluang untuk menjadi usaha yang menjanjikan.
“Sudah kita kirim berkas yang sudah kami lakukan di lembaga kami bentuk dokumen dan video Prolakatih ke Kemendikbud Ristek di bagian kurikulum, ini nanti masukan di PMM di implementasi Kurikulum Merdeka. Saya berharap semua warga sekolah termasuk orang tua turut terlibat dalam program ini,” tuturnya.
Ia berharap produk olaham kayu putih Prolakatih bisa dimanfaatkan siswa untuk mengembangkan wirausaha. Pihak sekolah saat ini masih mengajukan PIRT (Sertifikat izin Pangan Industri Rumah Tangga) agar produk olaham kayu putih bisa komersial secara luas.
“Semua warga sekolah termasuk orang tua bisa turut terlibat dalam program ini, karena bisa dimanfaatkan untuk kewirausahaan di masing-masing daerah, bisa distribusi ke toko-toko dapat menjadi lahan wirausaha. Karena prasarana di sekolah juga belum memadai,” lanjutnya.
Sehingga para siswa membawa sendiri peralatan saat program Prolakatih dan menggelar praktik di teras kelas. Pihak sekolah juga berencana akan menambah lahan untuk menanam pohon kayu putih lantaran dari 500 bibit tersisa sekitar 250-350 pohon kayu putih. [tin/ted]






