Malang (beritajatim.com) – Siswa SMKN 3 Malang menampilkan berbagai tarian daerah dan ludruk. Penampilan tersebut murni kreasi para siswa sebagai ujian praktik mata pelajaran seni budaya dan bahasa Jawa yang melibatkan kelas 10 dan kelas 12.
Acara bertajuk Pagelaran Senja: Laku Ing Sasmito Amrih Lantip itu berlangsung di Aula SMKN 3 Malang pada Rabu, (3/4/2023). Guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sekaligus penanggung jawab acara, Izzul Mutho’, S.Pd., menuturkan bahwa acara ini memang rutin diadakan sebagai upaya praktik baik kearifan lokal budaya bagi siswa.
“Jadi untuk yang kelas 10nya itu yang seni budaya, dan kelas 12 itu yang bahasa Jawa. Ini konsepnya seperti festival drama dan festival tari. Jadi dari situ diharapkan menjadi praktik baik kearifan lokal. Karena ada program dari pemerintah itu yang bernama P5. Diharapkan juga menanamkan pendidikan karakter melalui bahasa Jawa agar siswa paham unggah-ungguh,” kata Izzul Mutho’.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/peristiwa/kecelakaan-beruntun-di-jombang-2-orang-meninggal/
Izzul, sapaanya, menjelaskan bahwa ujian praktik bahasa Jawa mengambil salah satu tradisi seni pertunjukan di Jawa Timur berupa ludruk. Namun, itu hanya sebagai pendekatan saja karena jika murni ludruk terlalu kaku dan pakem untuk apa menguji siswa.
“Akhirnya dibuat yang lebih fleksibel yaitu drama bahasa Jawa. Para peserta yang terlibat sebelumnya sudah lolos tahap kurasi. Peserta yang lolos ini merupakan peserta pilihan yang terbaik. Bagi yang tidak lolos kurasi, masih ada yang tahap karantina,” kata penanggung jawab acara.
Pada karanita tersebut ada penugasan tersendiri salah satunya apresiasi dari siswa yang akan tampil. Termasuk hal yang sama dilakukan pada mata pelajaran seni budaya untuk kelas 10. Tari nusantara melalui tahap kurasi, dengan proses lebih panjang.
“Untuk tari tidak melibatkan satu kelas. Akhirnya satu kelas itu masih dibagi kelompok, kelompok diadu antar kelas. Nah, drama bahasa Jawa ini masih bisa di bagi manajemen produksi. Mulai dari pimpro, artistik, dan lainnya. Dari situ bisa terlihat kerjasama tim, jadi antar anggota memecahkan masalah karena, kita bisa tahu kemampuan problem solving juga,” zzul Mutho’, S.Pd.
Selain itu, penampilan siswa ini juga jadi ajang penilaian kerja sama. Izzul menjelaskan, setiap selesai proses latihan ada evaluasi. Jadi sebelum sampai ke tahap kurasi, juga ada tahap rantru. Dari program rantru ada penilaian proses, di situ ada evaluasi pencapaian siswa selama proses.

“Siswa bisa menilai dirinya sendiri, menilai antar teman, antar tim. Penampilan ini adalah kelanjutan setiap tahun Pagelaran Senja atau Seni Budaya dan bahasa Jawa),” jelas Izzul.
Setelah penampilan ada hadiah nominasi untuk tari nusantara dan drama bahasa Jawa. Nominasi tari nusantara terdiri atas juara 1, 2, 3, serta penari favorit . Sementara nominasi untuk drama bahasa Jawa terdiri atas juara 1, 2, dan 3. Kemudian aktor terbaik, artistik terbaik, musik terbaik, naskah terbaik, dan sutradara terbaik.
“Mulai dari sutradara , penulis naskah, artistik, musik, semuanya karya siswa. Full bagaimana bisa kita lihat kerjasama antar siswa. Di SMK 3 ini ada lima jurusan, yaitu tata boga, tata busana, kecantikan, Teknik Komputer Jaringan, dan perhotelan. Jadi saat membawa ada berbagai kesulitan tersendiri, tapi semua dapat diatasi,” ujarnya.
Bagian kesiswaan SMKN 3 Malang, M. Ilham Ar Rozaq, S.Pd., berharap agar dari acara pagelaran senja siswa-siswa dapat mengembangkan bakat dan minat. Selain itu, agar siswa terus melestarikan budaya lokal.
“Kalau bukan kita, generasi saat ini, siapa lagi. Jadi di sini ada beberapa penampilan drama, dan ludruk. Proses itu tidak berjalan kalau tanpa kekompakan dari setiap kelas. Kita berupaya agar anak-anak mencintai budaya sendiri,” kata Ilham Ar Rozaq.
Senada dengan itu, kepala SMKN 3 Malang, Dra. Lilik Sulistyowati, M.Si., menjelaskan bahwa agenda ini bertujuan agar siswa dapat belajar unggah ungguh bahasa Jawa. Selain itu, dia berharap agar siswa tidak lupa dengan tradisi dan kesenian dari Jawa. “Kita untuk mendidik dan mengajarkan dari dalam kayaknya itu sulit. Setidaknya mereka tahu itu biar tidak lupa budayanya sendiri , budaya Jawa,” ujarnya. (dan/kun)






