Tuban (beritajatim.com) – Tradisi sakral Siraman Waranggono kembali digelar di Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, setelah hampir lima tahun vakum akibat pandemi Covid-19. Pelaksanaan yang berlangsung Rabu (10/12/2025) ini menarik animo besar masyarakat yang memenuhi area pemandian untuk menyaksikan ritual wisuda para sindir atau penari tayub.
Siraman Waranggono kerap disebut sebagai prosesi “wisuda” bagi para sindir sebelum diperbolehkan tampil dalam Langen Tayub khas Tuban. Pada kesempatan kali ini, sembilan waranggono mengikuti prosesi siraman yang dilaksanakan dengan pendampingan sindir senior dan diawali tarian pembuka yang luwes.
Juru Kunci Pemandian Bektiharjo, Hartono, menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu dan selalu digelar setiap bulan September pada hari Rabu Pon. Namun, tahun ini jadwal mengalami penyesuaian. “Saya tidak tahu pasti sejak kapan Siraman Waranggono dimulai, namun sudah ada sejak dulu dan rutin digelar tiap tahun. Untuk tahun ini jadwal dimajukan menjadi tanggal 10, bertepatan dengan Rabu Legi,” ujar Hartono.
Kepala Disbudporapar Tuban, M. Emawan Putra, menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga keberlangsungan tradisi ini sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal. “Ini bentuk arahan dari Mas Lindra (Bupati Tuban) agar budaya tetap diuri-uri. Siraman Waranggono menjadi wadah bagi pegiat seni tayub dan harus terus difasilitasi,” tuturnya.
Selain itu, Disbudporapar juga mendorong peningkatan kualitas pertunjukan, mulai dari tata gerak, tata lagu, hingga busana, agar seni Tayub semakin menarik dan memiliki nilai ekonomi. “Kalau semakin bagus, seni ini bisa dijual ke wisatawan dan menjadi sumber ekonomi bagi para pelakunya,” pungkas Emawan. [dya/but]








