Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Simposium Nasional Kebencanaan 2024 yang menghadirkan sejumlah tokoh penting dalam penanganan krisis kesehatan dan bencana.
Sumarjaya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dan keahlian yang cukup mumpuni dalam menangani bencana.
Menurut Sumarjaya, World Health Organization (WHO) dan organisasi internasional lain dapat belajar dari Indonesia. Sumarjaya menegaskan bahwa bencana selalu berkaitan erat dengan krisis kesehatan, sehingga penanganan harus dilakukan dengan serius.
Menurutnya, bencana alam, non-alam, serta sosial memberikan dampak besar terhadap kesehatan. Terutama dengan terganggunya akses layanan kesehatan, minimnya sumber daya manusia (SDM), dan korban yang meningkat.
“Indonesia memiliki segala jenis fenomena bencana, mulai dari gempa, erupsi, banjir, hingga tsunami dan tanah longsor. Oleh karena itu, seharusnya kita tidak perlu belajar dari luar negeri tentang penanganan bencana. Sebaliknya, mereka yang seharusnya belajar dari kita,” tegas Sumarjaya.
Ia juga memaparkan tentang program tenaga cadangan kesehatan yang telah diluncurkan oleh pemerintah. Program ini menyiapkan SDM terlatih yang dapat dikerahkan saat terjadi bencana. Saat ini, sudah ada 17.500 tenaga cadangan kesehatan di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, Prasinta Dewi, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyebut bahwa sejak Januari hingga Oktober 2024, Indonesia telah mengalami 1.560 bencana. Bencana ini didorong oleh faktor hidrometeorologi, seperti banjir, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan atau lahan.
Menurut data dari The World Risk Index 2024, Indonesia berada di peringkat kedua negara paling rentan bencana dari 193 negara. Prasinta juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi bencana.
“Peran Indonesia tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional. Contohnya, Indonesia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Palestina dan Sudan sebanyak 14 kali dalam dua tahun terakhir,” tambahnya.
Simposium ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara berbagai pihak dalam menghadapi ancaman bencana dan meningkatkan kemampuan mitigasi serta pemulihan pasca bencana di Indonesia. Simposium ini dihadiri oleh mahasiswa serta praktisi dari berbagai disiplin ilmu, termasuk sosiologi, keperawatan, farmasi, dan kedokteran (dan/kun)






