Surabaya (beritajatim.com) – Ketika kucing seseorang mati, kita mungkin akan merasa simpati untuk orang tersebut. Tapi, jika kucing seseorang mati beberapa bulan setelah kucing kita mati, apa yang kita rasakan lebih tepat disebut sebagai empati.
Dengan kata lain, simpati adalah rasa kasihan yang kita rasakan untuk orang lain. Sementara itu, empati lebih mengacu pada kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi yang dialami orang lain.
Hal tersebut hanya satu interpretasi perbedaan yang dimiliki kedua kata tersebut, bahkan ada berargumen yang menyatakan bahwa bagaimana orang-orang menggunakan kata empati akhir-akhir ini, sama dengan bagaimana orang-orang menggunakan kata simpati beberapa abad yang lalu.
Menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata simpati mulai muncul pada akhir abad ke-16 sebagai istilah yang cukup terbuka untuk menjelaskan hubungan antara dua hal yang memiliki beberapa kesamaan atau mempengaruhi satu sama lain.
Simpati antara kepala dan perut kita dapat diartikan bahwa ketika kepala kita terasa pusing, perut kita juga akan terasa sakit. Jika hal tersebut adalah sebuah kondisi yang parah, maka bisa jadi kita akan ,merasa simpatetik pada gagasan bahwa dokter harusnya memberikan diskon pada pasien yang sering mengalaminya.
Jika berdasarkan penjelasan tersebut, simpati tidak harus terjadi di antara dua orang. Berbeda dengan penjelasan tersebut, para penulis di abad ke-18 menjelaskan bahwa simpati adalah koneksi emosional yang timbul karena pengalaman paralel yang terjadi di antara dua orang. Dari sanalah, pengertian ‘menempatkan diri pada situasi yang dialami orang lain’ muncul.
Ketika kata empati muncul lebih dari satu abad setelahnya, kata tersbeut memiliki maksud hubungan filosofis yang berbeda dengan kata simpati, yaitu hubungan filosofis antara orang dengan estetika.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pengetahuan-populer”]
Kata ini awalnya berasal dari kata dalam bahasa Jerman, Einfuhlung, yang diciptakan oleh filsuf Robert Vischer pada tahun 1870-an untuk menjelaskan teorinya tentang bagaimana manusia mendapatkan kesenangan dari seni dan alam.
Pada awal abad ke-20, filsuf-filsuf Inggris menerjemahkan kata Einfuhlung ke dalam bahasa Inggris dan menggunakannya untuk membahas bagaimana manusia mengirim emosi satu sama lain. Karenanya, empati menjadi istilah sosiologi yang kadang meniru apa yang dimaksud dengan simpati.
Pada dasarnya, pilihan kita untuk menggunakan kata empati atau simpati dalam sebuah situasi memerlukan analisis psikologis dan filosofis yang mendalam. Bahkan ketika kita telah melakukannya, masih banyak orang yang akan kontra dengan pilihan kata yang akhirnya kita gunakan. [dwp/bjo]






