Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Psikologi Ubaya melalui Shelter Rumah Hati menyuguhkan pementasan teater berjudul ‘Hikayat Selembar Tubuh’. Pementasan ini sebagai sarana rehabilitasi anak. Dengan kata lain bisa disebut Psikodrama.
Pendiri Shelter Rumah Hati, Prof Yusti Probowati Rahayu mengatakan bahwa pementasan teater ini sebagai terapi yang bertujuan untuk rehabilitasi. Ada sejumlah poin yang ingin dicapai, seperti tentang tanggung jawab.
“Ini alat untuk mendidik mereka agar bisa bertanggung jawab. Ketika menceritakan peristiwa yang menurut mereka aib, hal itu sebagai latihan bagi mereka untuk dapat menerima diri sendiri,” ujar Yusti ditulis Jumat (17/3/2023).
Dalam penggarapan naskah, anak-anak dibebaskan untuk menentukan naskah sesuai kesediaan bercerita. Pelatih hanya menyempurnakan apa yang didapat dari anak-anak tersebut. Tentu saja, di situ ada yang berani terbuka dan tidak.
Yusti mengungkapkan, setidaknya persiapan pementasan tersebut dilakukan selama empat bulan. Mereka berlatih untuk menghafalkan naskah, olah vokal hingga kedisiplinan. Di sisi lain, harapannya teater ini bisa menghapus stigma tentang anak-anak yang bermasalah dengan hukum.
“Anak-anak bisa salah karena lingkungannya juga. Ketika mereka diberikan lingkungan yang baik, pasti mereka juga jadi baik. Melalui drama ini, semoga mereka bisa kembali ke masyarakat dan diterima dengan baik,” tuturnya.
Pada pementasan ini, naskah diperankan lima anak binaan Rumah Hati. Mereka berusia kisaran 13-16 tahun yang merupakan anak berkonflik dengan hukum (ABH). Mereka pentas dengan durasi selama 1 jam 20 menit.
[berita-terkait number=”4″ tag=”teater”]
Adapun penokohan dalam naskah tersebut yakni menceritakan kehidupan Linggar, Gatan, Charly, Ilham, dan Jian. Mereka membawa masalah kerumitan hidupnya masing-masing.
Gatan dengan kasus kriminalnya sehingga menyulitkan lingkaran keluarganya. Linggar dan Ilham yang membeli barang curian dan dituduh sebagai penadah. Sedangkan Charly mengambil uang di kotak amal.
Lima anak tersebut merepresentasikan kisah nyata mereka yang pernah melakukan pelanggaran hukum, menentang orang tua, dan sebagainya. [ipl/but]






